Semalam di Malaka

Been a long time…

Udah lama gak nulis. Gak kemana-mana juga soalnya :D. Udah makin dewasa (Baca: TUA), udah semakin egois, egois dalam arti sekeren apapun tulisan dan pengalaman kita, yaa yang bisa rasain cuma kita. Udah mulai bijak dan berfikir bahwa hal-hal kecil yang menarik buat saya, belum tentu menarik buat orang lain. Hehehehe.

Yahh..dalam bulan penuh rahmat ini, sebagai ganti tahun-tahun yang hilang tanpa karya (Yaahh..ini juga bukan karya sih, tapi paling enggak ada yang bisa dipost di blog yang mulai berlaba-laba). Tuhh kan, makin tua gw makin pesimis nih… :'(. Sebagai throwback pengalaman backpacking beberapa tahun lalu pas masih muda dan aktif sama Citra dan Wulan (My flashpacker mate) ke Malaka.

Jadi taun 2012 itu, ketika backpackeran belon sepopuler zaman sekarang, dan ketika rupiah masih lumayan kuat terhadap Malaysian Ringgit, dan tentu saja istilah selfie belum exist di muka bumi, kita sempat nyuri waktu buat jalan ke Malaka, dan gak ngapa-ngapain juga sih di sana. Berangkat dari KL siang, sampe Malaka udah sorean, trus besok siangnya mesti balik lagi ke KL. Jadi yahh..liat-liat kotanya saja :D.

Berhubung ini kaset videonya baru dapet, jadilah dibuat lagi video ‘Semalam di Malaka’ ini. sebenernya judul aslinya “Malacca: One Night Stand” tapi takutnya dibanned sama google, Jadi yaahh..!!

Video ini memang cuma liatin perjalanan kita dari KL ke Malaka saja. That’s all :D. Video Ini juga buat ngingetin kita aja, kalo dari pertama kali mulai suka backpackeran bareng. Meski ada yang udah gonta ganti pacar, gonta ganti teman kencan, gonta ganti temen tidur, udah keluar masuk dan gonta ganti kerjaan, dan masih tetap ada yang memilih untuk menjomblo, diantara kita belon ada yang nikahan… hahahaha. Ok skip.

Jadii..yahh..enjoy the video deh, kalo gak enjoy yaa..enjoy-enjoyin aja.. :D.

Mengejar Senja di Lhok Keutapang..

Akhir maret 2013, aku dan Citra -as my hiking mate- berencana untuk camping di Lhok Keutapang. Bersama Ilham, Bulek dan Karem kami akhirnya berkesempatan untuk merealisasikan perjalanan ini. Meskipun belum ada satu orangpun diantara kami berlima yang sudah pernah pergi ke pantai yang terletak di balik bukit ini, tapi banyak cerita menarik terdengar tentang indahnya Pantai Lhok Keutapang.

Image

Jalan mendaki menyusuri lereng dan melewati bukit langsung tersuguhkan dengan nikmatnya ketika menginjakkan kaki di jalan setapak. Beberapa kali kami terpaksa beristirahat setelah melangkah beberapa meter untuk kembali mengumpulkan tenaga dan mengambil nafas.

Karem bersikeras untuk memanggul sebuah galon air minum untuk persediaan selama bermalam di sana. Awalnya memang terlihat mustahil, meski pada akhirnya kami sangat berterima kasih memiliki Karem di dalam team ini. Memanggul satu galon penuh air minum jelas bukan hal kecil. Dalam 4 jam perjalanan mendaki dan menuruni bukit yang terjal dan berbatu. But he made it..

Image

(L/R) ILham, Karem, Hendri, Dicko, Citra

Jalan setapak menuju lhok keutapang ini memang jalan yang jarang dilalui banyak orang, jadi, banyak jalan yang masih perawan. Persimpangan dan jalan setapaknya juga banyak yg bikin galau. Perseteruan-pun terkadang sulit terhindari ketika kami akan memilih jalan mana yang akan kita tempuh dipersimpangan. See… milih jalan yang untuk naik gunung aja terkadang kita bingung, apalagi memilih jalan untuk masa depan.. 😀

Sebenarnya ada beberapa tanda belokan dan arah jalan yang harus diambil, ada ikatan plastik yang kebanyakan berwarna biru di pohon. Jadi, dibutuhkan kejelian mata untuk membaca sign-nya. Sangat disarankan untuk berlatih kecepatan mata sebelum melalui jalur ini, cobalah untuk bermain game Onet.

Setidaknya ada dua kali drama salah jalan dan tak tau arah dalam perjalanan kami ini.

Dikarenakan jalan tanah yang berbukit, terjal dan berbatu juga suhu di Aceh sehari-hari yang selalu di atas 300C, maka sangat disarankan untuk memakai pakaian yang nyaman. Pakailah pakaian dengan bahan casual. Jangan pernah coba-coba untuk memakai jaket, ataupun seragam kantoran.

Pakailah celana selutut untuk memudahkan bergerak dan mendaki. Tidak disarankan memakai jeans ataupun kain sarung, tapi kalau merasa nyaman dengan memakai jeans ya monggo silahkan…

Image

Keringat akan terus bercucuran selama perjalanan. Bawalah handuk kecil, atau kalau anak-anak yang suka naik gunung itu biasanya punya scraf yang biasa diikatkan di kepala untuk menghalangi tetesan peluh jatuh masuk ke mata. atau kalo gak bawa, kayak saya, berjalanlah tepat di belakang temanmu yang menggantungkan jaket atau sweaternya di bagian belakang ransel. Manfaatkan kesempatan itu untuk menjadikan jaketnya sebagai alat untuk menghapus keringat di dahimu. Tanpa sepengetahuannya juga tidak apa-apa, tapi kalo minta izin terlebih dahulu memang lebih bagus sih, meski terancam gak dibolehin.

Alas kaki sangat disarankan memakai sepatu, agar kaki terhindar dari goresan ranting pepohonan dan tajamnya batu karang menjulang.. #eeaa. Paling tidak, pakailah sandal gunung yang tidak licin agar menjaga tubuh tetap seimbang ketika menuruni lereng yang agak curam. Sangat tidak disarankan memakai sandal jepit, apalagi sandal hotel yang dengan sengaja anda bawa pulang. Jangan coba-coba memakai sandal kamar dengan design angry bird, hello kitty, doraemon dan sebagainya. Apalagi tidak memakai alas kaki.

Untungnya diantara kami berlima semua terkena luka gores, baik karena ranting ataupun karang. Saran saya, jika ketika pulang dari mendaki tubuh anda bebas goresan, tak ada salahnya untuk dengan sengaja menggores bagian jari, lengan ataupun kaki yang gampang terlihat, agar nampak lebih cool lah dengan bekas luka gores atau balutan handyplaster. Supaya nampak anak gunungnya gituu… #digampar

Akan banyak sesi istirahat dalam perjalanan. Jadi, jangan lupa untuk siapkan satu botol besar air mineral untuk perjalanan one way. Jadi dua botol besar air mineral cukup untuk perjalanan return. Dan ingat, itu perjalanan saja. Kalau ada rencana menginap satu malam, bawalah makanan dan minuman yang lebih dari cukup.

For your information, mata air terdekat dari pantai berjarak sekitar 30 menit perjalanan mendaki dengan kemiringan yang sangat melelahkan. Jadi gunakan air minum dan air bersih yang ada dengan sangat bijak.

Beruntung dalam perjalan kami kali ini ada Karem yang dengan ikhlas dan suka rela dan pastinya sanggup membawakan satu galon penuh air minum sampai ke tujuan. Saya juga sebenernya jujur ikhlas dan rela, tapi sayang kekuatan saya belum sampai pada tahap itu. Konon angkat 5 galon air dari luar sampe ke dalem rumah yang jaraknya kurang dari 5 meter aja istirahatnya 10 menit setiap galon. Jadi memang sebaiknya kita serahkan pada ahlinya saja *salaman dengan Karem*.

Sekitar 4 jam perjalanan melewati mungkin dua bukit curam dan berbatu akhirnya kami sampai pada sebuah padang ilalang terbentang luas di bawah kaki bukit Lhok Keutapang. Pemandangan yang sungguh menakjubkan langsung melenyapkan rasa lelah. Pasir putih dan air laut hijau tosca dan biru yang kontras. Pulau Bunta yang menurut cerita adalah sebuah pulau tak berpenghuni dengan pemandangan pantai yang tak kalah indahnya tepat berada di hadapan kami, menjulang di tengah laut.

Image

Image

Image

Sekitar pukul 4 sore saat kami tiba dan matahari masih bersinar terik seolah pukul 1 siang. Kami dengan tidak sabar langsung menceburkan diri dengan pasrahnya ke dalam laut. Beberapa ekor ikan hias berwarna warnipun ikut berenang diantara kami dengan riangnya. Disarankan untuk membawa alat snorkeling ataupun kacamata renang agar dapat menikmati terumbu karang yang tampak dan indahnya taman bawah laut dan ikan hias yang bertaburan di Pantai Lhok Keutapang ini.

Tapi juga begitu banyak pecahan batu karang yang menutupi pasir. Ombaknya juga terkadang lumayan besar sehingga banyak diantara kami yang tergores terkena karang laut ketika terhempas ombak. Jadi sebaiknya tetap memakai sandal gunung ketika berenang, agar lebih nyaman melangkah.

Image

Saya masih sangat antusias untuk berenang dengan ciamik diantara karang-karang tajam nan kokoh tertancap di dasar laut hijau bersemu nan tosca itu, ketika dalam perjalanan menuju sebuah mulut gua tempat kami akan mendirikan tenda, kami berpapasan dengan abang-abang yang ngakunya mahasiswa ekonomi, but obviously they’re not, according to their old faces. Dengan senyum sumringah salah satu dari mereka menenteng seekor ikan yang masih tergantung di mulut pancingnya. Aku melihat ikan malang berkepala ceper itu dengan tatapan sinis dan meyakinkan diri kalo itu adalah Suolaisen Monni atau bahasa inggrisnya Saltwater Catfish atau untuk lebih mudahnya dapat dibaca dengan Ikan Lele Air Asin.

Sebelum akhirnya Citra dan Ilham meyakinkanku bahwa ikan itu adalah seekor anak Ikan Hiu. Okay…anggaplah dia lele yang menyamar, bisa aja kan? Atau dia cuman lele yang mau nganggap dirinya hiu? Lele yang tertukar, Why not?? tapi tolonglah anggap dia tetap Ikan Lele 😥

Okay, i failed to convince myself that it was a catfish, but a little shark. Oke boys, it’s time to get out of this place…

Look.. Mereka mancing di pinggir pantai dan dapatnya anak hiu. That such a big thing for me. Pasti orang tuanya nyari kan? Ada gitu orang tua yang gak nyari kalo anaknya ilang? Konon lagi anaknya kena pancingan. Gak pernah nonton Finding Nemo ni orang pasti ya…

Image

Setelah bisa sedikit menenangkan diri dari tatapan nista anak hiu tadi, aku menyibukkan diri dengan mencoba mendirikan tenda. Kami mendirikan dua buah tenda di depan sebuah mulut gua. Mengumpulkan beberapa ranting kering untuk dibakar. Dan ketika langit mulai menampakkan mega kemerahan, sebelum matahari turun ke permukaan laut, aku dan Citra mengambil posisi dan mencari tempat untuk mengambil momen indah matahari terbenam di Lhok Ketapang ini.

Since I’m only an amateur, there are some fail and good photos. So, here are some..

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Keindahan alam itu ternyata gak cuma sampai di situ. Malam harinya, dengan penerangan yang benar benar minim, bahkan memang tidak ada sumber cahaya apapun kecuali bulan. Kita bisa melihat ribuan kerlip kunang-kunang yang terbang dan hinggap di pohon ketapang tepat berada di atas tenda kami. begitu alami..

Image

Image

Captured by Citra Rahman. Foto ini juga dapat dilihat di http://hananan.wordpress.com/2013/04/09/pesona-keemasan-di-pantai-lhok-keutapang/

Dan kalau beruntung berdoalah supaya langit cerah dan kita bisa menikmati indahnya ribuan bintang bertaburan menghiasi langit malam, seperti malam itu. Terkadang bahagia itu sederhana, bagi kami berbaring di atas pasir di pinggir pantai yang sepi, dengan suara desiran ombak yang merdu, menikmati indahnya langit malam bertabur bintang dan ribuan kunang kunang yang memenuhi pohon ketapang itu sudah cukup. Meski terkadang kita menuntut lebih :).

Lhok Keutapang….. Checked

Baca juga cerita versi Citra dan cerita versi Ilham.

and now, lean back and enjoy the video 🙂

Travel Adventure Story..

Meskipun bukan penulis hebat yang selalu bisa menceritakan pengalaman dalam tulisan indah, tapi ketika tahu MySelangorStory membuka kesempatan untuk para traveler jalan-jalan lagi. Mungkin sekarang saatnya berpartisipasi dalam kompetisi ini. I love traveling, adventure and blogging, and I am the guy who really meet that words in me. So, judges you can count me in to this competition.

Setiap kali ke Kuala Lumpur selalu merasa ini adalah perjalanan pertama ke Malaysia. Selalu ada tempat baru yang menarik untuk didatangi. Tahun 2007 pertama saya menginjakkan kaki di Kuala Lumpur, sudah pasti tujuan pertama ke KLCC, untuk melihat the fenomenal Petronas Twin Towers. Berjalan kaki dari Bukit Bintang Station terasa sangat menyenangkan, menikmati gemerlapnya suasana malam di kawasan Bukit Bintang. Melewati KL tower untuk melihat kemegahan Twin Towers malam hari. Menyusuri Mesjid Jami’ Kuala Lumpur dan dataran merdeka. Sungguh melegakan akhirnya bisa sampai di depan twin towers dan menikmati indahnya bangunan kembar itu. Waktu dua hari memang tidak cukup untuk mengunjungi semua tempat wisata di Kuala Lumpur. Tapi tentu traveling wisata alam ke Phuket gak boleh dilewati. Transit dua hari di Kuala Lumpur cukup membuat saya berjanji untuk kembali lagi ke Kuala lumpur dan mengexplore tiap bagian kotanya.

Jalan Alor Kuala Lumpur, Malaysia

Jalan Alor Kuala Lumpur

Sultan Abdul Samad Building

Sultan Abdul Samad Building

Sepang International Circuit

Sepang International Circuit

Kuala Lumpur, Malaysia

Melanjutkan perjalanan ke Thailand. Tujuan utamanya tentu Phuket. Keindahan alam dan berbagai wisata yang ditawarkan sudah pasti menjadi magnet untuk para wisatawan. Bertemu teman baru dan bercerita mengenai keindahan negeri sendiri sungguh mengesankan. Alam selalu tahu caranya membuatku terpesona. Melihat bukit karang besar yang tersebar di sekitar laut dengan gua dibawahnya, ke monkey beach, berenang di Phi-Phi island, snorkeling, berjemur di pantai dan yang pasti menikmati makanan Thailand fresh from the open. Menikmati keindahan alam phuket harus pake foto dong, karena foto tahu cara bercerita dengan lebih baik. Dan Phuket gak cuma pantai, kehidupan malamnya yang bebas selalu menggiurkan untuk dinikmati.

Phuket

Akhir Maret 2012, aku, Wulan dan Citra berkesempatan menikmati indahnya kota Malaka. Pertama menginjakkan kaki di Malaka suasana sejarahnya langsung terasa. Bangunan bersejarah di kota tua Malaka ini membuat suasana sejarah makin kental. Komplek rumah merah sudah pasti tujuan utama untuk berfoto di depan Christ Churhc dan Stadthuys. Menyusuri Malaka River dan menikmati malam di Malaka membuat saya jatuh hati dengan kota ini. Nyaman, teratur dan romantis. Kembali ke Malaka, itu harus.

Malaka

Kota Tua Malaka

Menyaksikan balapan F1 secara langsung adalah mimpiku sejak 12 tahun mencintai F1. Berkesempatan untuk menonton langsung F1 Singapura akhir September 2012 lalu, bersama teman-teman baru sesama pecinta F1, tidak lantas membuat saya puas. Konser artis kelas dunia, drivers parade dan pesta kembang api setelah balapan selalu ditunggu penikmat F1. Menikmati euforia kesenangan, ketegangan, keindahan dan kemewahan balapan malam di Singapura akan tetap menjadi maghnet untuk kembali ke sana.

Formula One 2012

Marina Bay Street Circuit Singapore

There’s always a story to complete and new friend to meet at every adventure I’ve been made. And it would be an honor for me to be able to explore Selangor with many new friends in this myselangorstory competition. I wish