Penang Marathon 2016 (Tips and Story)

pbim

Penang Bridge International Marathon 2016

LANGKAH-LANGKAH panjang mereka saling menggapai adu cepat, saling berlomba adu jauh, menggapai garis finish yang hanya tinggal sekedip mata. Tubuh mereka seolah terbang, memompa sisa-sisa tenaga sampai langkah terakhir. Aku selalu terpana, ternganga, termangu, tergoda – kalo yang terakir ini enggak kayaknya – para pelari elit ini karena masih punya tenaga aja sampe finish. Seandainya beban hidup bisa seringan tubuh mereka, yang tetap bisa lari paling depan dari mulai start sampe garis finish, yang abis nginjek garis finish masih bisa senyum lebar, selebar gapura finishnya.

Cerita di atas adalah sekelebat cuplikan video di youtube yang aku tonton sesaat sebelum kemudian akhirnya memutuskan untuk mengikuti event marathon di Penang.

MARATHON…iyess..sok banget kan..hahaha 😀 !!

Udah 2 tahun ini aku belajar lari – lebih tepatnya si BARU dua tahun ini – Iya, belajar menjadi pelari. Menjadikan lari sebagai suatu hobi ternyata bukan suatu hal yang mudah juga. Semua orang bisa lari, tapi gak semua orang bisa disiplin dan punya komitmen dengan hobi ini. Eciee..udah bisa kasih kuliah. Hahaha.

Tulisan ini aku buat semata-mata wayang adalah karena, sebelon pergi ke Penang kemaren susahnya cari tulisan pelari Indonesia yang menceritakan tentang Penang Marathon. Baik pengalaman, hotel, venue race, maupun akomodasi lainnya. Padahal kata kunci yang aku masukin di mesin pencari google kayak Bioskop TGV di penang, Mall di Penang, Tempat Makan Enak di Penang semua udah sesuai kaedah bahasa. Apa karena aku ‘gak tulis Penang Marathon atau sejenisnya?? Facebook dan Instagram aja bisa kasih suggestion orang yang mungkin aku kenal. Masak google gak bisa ngasih suggestion sebenarnya apa yang mau aku cari?? Ciihh…

Ini memang bukan official race pertamaku, official race pertama buat Half Marathon si- tapi buatku, setiap race yang aku ikuti adalah race pertama. Persiapannya, kegembiraannya, pengalamannya, RASANYA, semua gak akan ada yang sama. Yang sama cuma satu, SEMANGAT untuk bisa mencapai garis finish #eaaa.. 😀

TARGET set, simulasi latihan Half Marathon tepat satu minggu sebelum hari H, done. Semua tiket dan perlengkapan race, packed. Am so excited to deal with my first half marathon race, and am ready to go.

TIPS:  Kalo mau ikut Penang Bridge International Marathon yang biasanya diadain bulan November, sekitar Maret-April biasanya udah ada early bird tiket. Jadi, rajin-rajinlah hunting tanggal official early bird race ticket. Biasanya lagi, di grup-grup lari pasti ada yang infoin. Harganya Lebih murah RM10 dari harga normal, lumayan bisa berapa kali bolak balik naik bus itu kan.. :D.

Satu lagi tips yang paling penting adalah PENGINAPAN, carilah penginapan di dekat komtar (semacam terminal busnya) kalo di george town. Atau di dekat venue race yang terletak di seputaran Queensbay Mall. Dan untuk acara KELAS INTERNASIONAL kayak gini sebaiknya jangan pernah pake pepatah di situ sesak boker di situ cari toilet. Carilah toilet sebelum sesak boker, karena orang-orang yang sesak boker dari seluruh dunia, bakal cari toilet di situ juga. Haduhh..istilahnya jorok si memang, tapi u know what i mean.

Dari Banda Aceh aku naik Fire Fly. Alhamdulillah dapat tiket yang promo. Gak promo banget si memang, tapi dengan harga Rp. 262.000 kan bikin lu manyun kalo harus beli dengan harga normal yang ampir sejuta. Kalo ini emang harus rajin cek tiket promo sampe satu bulan sebelum hari H.

Keberangkatan Banda Aceh – Penang kita tempuh dalam waktu  1:40:52. Detiknya memang terkadang bisa beda-beda kalo diliat di jam tangan setiap penumpang. Ini pertama kali terbang bersama Fire Fly, meski pesawatnya kecil, Aaaa…tapi dapet makaaaannnn ternyataaaaa sodara-sodara. Kebiasaan naek pesawat yang gak dapet makan gratis ya gini, jadinya excited berlebihan. Padahal cuman roti sama teh doang.. :D.

Setelah dengan selamat mendarat di Penang International Airport, kita langsung berbondong-bondong ke imigrasi. Satu hal yang selalu paling aku suka dari penerbangan internasional adalah perlombaan menuju yellow line imigrasi, kayak perebutan gelar bangsawan. Siapa yang duluan mencapai imigrasi dialah juaranya… #nyanyik.

DAN yang paling bikin eneg adalah pertanyaan gak berbobot abang-abang di imigrasi. Pertanyaan standar yang nyentil banget semacam ‘BUAT APA DI SINI?’. YA MENURUT LOOOO??? Rasanya pengen langsung ngelempar passport ke mukanya sambil nunjukin setiap lembar halaman yang hampir penuh dengan cap imigrasi….. KUALA LUMPUR. Eh…Ohh.. cuma Kuala Lumpur. Okesip.

Untungnya gak ada DRAMA NAIK HAJI di imigrasi ini yang sampe session seratus, setelah aku jawab ‘mau ikut Marathon, om’. Abang-abang yang seyogyanya udah om-om itu langsung excited ‘OHH..Penang Marathon. Ambil Full atau Half ?’. STEREOTYPE KAMU. Kalo aku ngambilnya 10k gimana? Hah gimanaaa?

Dengan agak kaget dan maksain senyum kujawab ‘Half Marathon’.

And he was like ‘Oww..waw’ – WAW di sini mungkin artinya ‘Are you sure, u kidding right??’ dan dia lanjut ngobrol ‘Saya lari pun suka’. Sambil balikin passport. Aku ngangguk-angguk, teringat Upin-Ipin nih dari logatnya, mungkin oomnya Upin-Ipin :p. Dan dia tetap lanjut ngobrol ‘tapi 10k saja. Nafas sudah tak sanggup’.

Aku  menoleh ke belakang, yang ngantri mulai liat dengan tampang jijik ke arahku. ‘10k saya 60 minits, boleh??’. Duh…om.

‘Pace 6, dah oke tu kalau jarang lari’ jawabku takut-takut. Takut dikira SOK TAU.

‘Ohh..OK. Good luck’ lanjutnya sambil kasih jempol. Aku mengangguk sambil mengisyaratkan ucapan ‘thank you’ dengan bibirku, dan ngasih senyuman paling menawan yang pernah aku berikan ke petugas imigrasi yang pernah ada. Duhhh..so sweet banget gak si, kayak di novel-novel cinta…

Setelah makan siang di Bandara, dan jumpa Vero – temen lari ku dari Bangka – aku, Wulanmy travel mate yang ikut Penang Marathon juga –  langsung menuju halte bus di depan gedung airport. Karena tujuan penginapan kita, NOSTALGIA INN, letaknya di seputaran george town, kita naiknya bus 401E dengan harga RM2.7,- ( Kalo naik taksi harganya bisa sampe RM30,- ). Pengennya kita naik taksi limo sewaan bertabur mutiara dengan atap terbuka. Tapi apa daya…

TIPS: Bus 401 dan 401E beda rute, meski sama-sama tujuannya KOMTAR. Kalo tujuan kamu ke Komtar, bisa naik bus 401 atau 401E dengan HARGA yang sama. Tapi 401E sampenya lebih cepat dikit, karena gak banyak berhenti di halte. Bayar busnya mesti uang pas ya. Jadi, sebelon naik bus siapin dulu duit di tangan biar gak ribet. Jangan kayak emak-emak ngisi bensin satu liter tapi duitnya ditarok di dompet dalem tas lapis lima #EMOSI. Jangan lupa banyakin duit RM1,-

Sukurnya sekarang ada GOOGLE MAP kan ya. Jadi biar lebih mudah, ketik aja nama penginapan kamu, nanti google akan dengan lapang dada hati ikhlas memberikan nomor bus yang harus dipilih dan estimasi waktu perjalanan dari airport ke tujuan kamu, bisa naik taxi, bus, atau jalan kaki, tinggal pilih. Saran saya jangan pilih jalan kaki, sementangan lo PELARI!!!

Pilih penginapan dekat venue race di Queensbay Mall yang bisa dijangkau dengan jalan kaki. Atau kalo cari penginapan di seputaran george town, carilah yang deket komtar, paling tidak bisa jalan kaki. Karena, free bus yang disediain panitia PBIM tunggunya nanti di deket komtar. Dan kalo mau jalan kemana-mana juga gampang, soalnya semua jurusan bus berakhirnya di komtar. Seandainya kamu itu komtar, pasti hati ini juga berakhir di kamu….

Kalo dari airport, bus 401E sebenernya ngelewatin queensbay mall. Kalo mau langsung ambil racepack dari bandara si bisa, tapi kami memilih check in penginapan dan bersih-bersih dulu. Sambil nungguin Handra, my another running buddy from Bangka.

Jadi, komtar itu semacam terminal busnya gitu. YA IYA LAHHH.. namanya juga BUS TERMINAL KOMTAR. Di depannya ada 1st AVENUE MALL yang ada TGV Cinema. Jadi kalo mau nonton kan gak mesti jauh-jauh ke Queensbay atau Gurney Paragon, dan sukurnya NOSTALGIA INN ini cuma berjarak 5-6 menit dari komtar.

Setelah semuanya ngumpul, beres-beres dan bersih-bersih, kita memutuskan untuk langsung menuju queensbay mall, tempat pengambilan race pack. GAK SABAR!!!

img_2784

Lokasi Pengambilan Race Pack di Queensbay Mall

Dan tanpa dinyana tanpa diduga, ngambil racepacknya secepat kerjapan mata. Gak pake ngantri, gak pake rusuh, gak pake bagi-bagi makan siang dulu, gak pake long march dulu, pokoknya gak pake DRAMA. Semua lancar jaya. TEROGANISIR dengan baik sekali sodara-sodara. Ketakutan kita karena kelamaan antri dan dorong-dorongan sirna. Selebar lebar lapak dan sepanjang jalan kenangan, semua petugasnya bekerja dengan cepat dan cekatan.

Alhasil, kita bisa poto-poto dulu dengan lapangnya gak pake rebutan.

 

Jadi buat kamu yang siapa tau mau ikutan Penang Marathon 2017 nanti, gak perlu takut ngantri lama dan rusuh saat pengambilan racepack. Eh, tapi mudah-mudahan taon-taon berikutnya pengambilan racepack PBIM tetap tentram damai sejahtera dan aman sentosa ya. Amin.

Silahkan baca cerita versi Wulan di Penang Bridge International Marathon 2016, My First Race… Part 1

Mengejar Senja di Lhok Keutapang..

Akhir maret 2013, aku dan Citra -as my hiking mate- berencana untuk camping di Lhok Keutapang. Bersama Ilham, Bulek dan Karem kami akhirnya berkesempatan untuk merealisasikan perjalanan ini. Meskipun belum ada satu orangpun diantara kami berlima yang sudah pernah pergi ke pantai yang terletak di balik bukit ini, tapi banyak cerita menarik terdengar tentang indahnya Pantai Lhok Keutapang.

Image

Jalan mendaki menyusuri lereng dan melewati bukit langsung tersuguhkan dengan nikmatnya ketika menginjakkan kaki di jalan setapak. Beberapa kali kami terpaksa beristirahat setelah melangkah beberapa meter untuk kembali mengumpulkan tenaga dan mengambil nafas.

Karem bersikeras untuk memanggul sebuah galon air minum untuk persediaan selama bermalam di sana. Awalnya memang terlihat mustahil, meski pada akhirnya kami sangat berterima kasih memiliki Karem di dalam team ini. Memanggul satu galon penuh air minum jelas bukan hal kecil. Dalam 4 jam perjalanan mendaki dan menuruni bukit yang terjal dan berbatu. But he made it..

Image

(L/R) ILham, Karem, Hendri, Dicko, Citra

Jalan setapak menuju lhok keutapang ini memang jalan yang jarang dilalui banyak orang, jadi, banyak jalan yang masih perawan. Persimpangan dan jalan setapaknya juga banyak yg bikin galau. Perseteruan-pun terkadang sulit terhindari ketika kami akan memilih jalan mana yang akan kita tempuh dipersimpangan. See… milih jalan yang untuk naik gunung aja terkadang kita bingung, apalagi memilih jalan untuk masa depan.. 😀

Sebenarnya ada beberapa tanda belokan dan arah jalan yang harus diambil, ada ikatan plastik yang kebanyakan berwarna biru di pohon. Jadi, dibutuhkan kejelian mata untuk membaca sign-nya. Sangat disarankan untuk berlatih kecepatan mata sebelum melalui jalur ini, cobalah untuk bermain game Onet.

Setidaknya ada dua kali drama salah jalan dan tak tau arah dalam perjalanan kami ini.

Dikarenakan jalan tanah yang berbukit, terjal dan berbatu juga suhu di Aceh sehari-hari yang selalu di atas 300C, maka sangat disarankan untuk memakai pakaian yang nyaman. Pakailah pakaian dengan bahan casual. Jangan pernah coba-coba untuk memakai jaket, ataupun seragam kantoran.

Pakailah celana selutut untuk memudahkan bergerak dan mendaki. Tidak disarankan memakai jeans ataupun kain sarung, tapi kalau merasa nyaman dengan memakai jeans ya monggo silahkan…

Image

Keringat akan terus bercucuran selama perjalanan. Bawalah handuk kecil, atau kalau anak-anak yang suka naik gunung itu biasanya punya scraf yang biasa diikatkan di kepala untuk menghalangi tetesan peluh jatuh masuk ke mata. atau kalo gak bawa, kayak saya, berjalanlah tepat di belakang temanmu yang menggantungkan jaket atau sweaternya di bagian belakang ransel. Manfaatkan kesempatan itu untuk menjadikan jaketnya sebagai alat untuk menghapus keringat di dahimu. Tanpa sepengetahuannya juga tidak apa-apa, tapi kalo minta izin terlebih dahulu memang lebih bagus sih, meski terancam gak dibolehin.

Alas kaki sangat disarankan memakai sepatu, agar kaki terhindar dari goresan ranting pepohonan dan tajamnya batu karang menjulang.. #eeaa. Paling tidak, pakailah sandal gunung yang tidak licin agar menjaga tubuh tetap seimbang ketika menuruni lereng yang agak curam. Sangat tidak disarankan memakai sandal jepit, apalagi sandal hotel yang dengan sengaja anda bawa pulang. Jangan coba-coba memakai sandal kamar dengan design angry bird, hello kitty, doraemon dan sebagainya. Apalagi tidak memakai alas kaki.

Untungnya diantara kami berlima semua terkena luka gores, baik karena ranting ataupun karang. Saran saya, jika ketika pulang dari mendaki tubuh anda bebas goresan, tak ada salahnya untuk dengan sengaja menggores bagian jari, lengan ataupun kaki yang gampang terlihat, agar nampak lebih cool lah dengan bekas luka gores atau balutan handyplaster. Supaya nampak anak gunungnya gituu… #digampar

Akan banyak sesi istirahat dalam perjalanan. Jadi, jangan lupa untuk siapkan satu botol besar air mineral untuk perjalanan one way. Jadi dua botol besar air mineral cukup untuk perjalanan return. Dan ingat, itu perjalanan saja. Kalau ada rencana menginap satu malam, bawalah makanan dan minuman yang lebih dari cukup.

For your information, mata air terdekat dari pantai berjarak sekitar 30 menit perjalanan mendaki dengan kemiringan yang sangat melelahkan. Jadi gunakan air minum dan air bersih yang ada dengan sangat bijak.

Beruntung dalam perjalan kami kali ini ada Karem yang dengan ikhlas dan suka rela dan pastinya sanggup membawakan satu galon penuh air minum sampai ke tujuan. Saya juga sebenernya jujur ikhlas dan rela, tapi sayang kekuatan saya belum sampai pada tahap itu. Konon angkat 5 galon air dari luar sampe ke dalem rumah yang jaraknya kurang dari 5 meter aja istirahatnya 10 menit setiap galon. Jadi memang sebaiknya kita serahkan pada ahlinya saja *salaman dengan Karem*.

Sekitar 4 jam perjalanan melewati mungkin dua bukit curam dan berbatu akhirnya kami sampai pada sebuah padang ilalang terbentang luas di bawah kaki bukit Lhok Keutapang. Pemandangan yang sungguh menakjubkan langsung melenyapkan rasa lelah. Pasir putih dan air laut hijau tosca dan biru yang kontras. Pulau Bunta yang menurut cerita adalah sebuah pulau tak berpenghuni dengan pemandangan pantai yang tak kalah indahnya tepat berada di hadapan kami, menjulang di tengah laut.

Image

Image

Image

Sekitar pukul 4 sore saat kami tiba dan matahari masih bersinar terik seolah pukul 1 siang. Kami dengan tidak sabar langsung menceburkan diri dengan pasrahnya ke dalam laut. Beberapa ekor ikan hias berwarna warnipun ikut berenang diantara kami dengan riangnya. Disarankan untuk membawa alat snorkeling ataupun kacamata renang agar dapat menikmati terumbu karang yang tampak dan indahnya taman bawah laut dan ikan hias yang bertaburan di Pantai Lhok Keutapang ini.

Tapi juga begitu banyak pecahan batu karang yang menutupi pasir. Ombaknya juga terkadang lumayan besar sehingga banyak diantara kami yang tergores terkena karang laut ketika terhempas ombak. Jadi sebaiknya tetap memakai sandal gunung ketika berenang, agar lebih nyaman melangkah.

Image

Saya masih sangat antusias untuk berenang dengan ciamik diantara karang-karang tajam nan kokoh tertancap di dasar laut hijau bersemu nan tosca itu, ketika dalam perjalanan menuju sebuah mulut gua tempat kami akan mendirikan tenda, kami berpapasan dengan abang-abang yang ngakunya mahasiswa ekonomi, but obviously they’re not, according to their old faces. Dengan senyum sumringah salah satu dari mereka menenteng seekor ikan yang masih tergantung di mulut pancingnya. Aku melihat ikan malang berkepala ceper itu dengan tatapan sinis dan meyakinkan diri kalo itu adalah Suolaisen Monni atau bahasa inggrisnya Saltwater Catfish atau untuk lebih mudahnya dapat dibaca dengan Ikan Lele Air Asin.

Sebelum akhirnya Citra dan Ilham meyakinkanku bahwa ikan itu adalah seekor anak Ikan Hiu. Okay…anggaplah dia lele yang menyamar, bisa aja kan? Atau dia cuman lele yang mau nganggap dirinya hiu? Lele yang tertukar, Why not?? tapi tolonglah anggap dia tetap Ikan Lele 😥

Okay, i failed to convince myself that it was a catfish, but a little shark. Oke boys, it’s time to get out of this place…

Look.. Mereka mancing di pinggir pantai dan dapatnya anak hiu. That such a big thing for me. Pasti orang tuanya nyari kan? Ada gitu orang tua yang gak nyari kalo anaknya ilang? Konon lagi anaknya kena pancingan. Gak pernah nonton Finding Nemo ni orang pasti ya…

Image

Setelah bisa sedikit menenangkan diri dari tatapan nista anak hiu tadi, aku menyibukkan diri dengan mencoba mendirikan tenda. Kami mendirikan dua buah tenda di depan sebuah mulut gua. Mengumpulkan beberapa ranting kering untuk dibakar. Dan ketika langit mulai menampakkan mega kemerahan, sebelum matahari turun ke permukaan laut, aku dan Citra mengambil posisi dan mencari tempat untuk mengambil momen indah matahari terbenam di Lhok Ketapang ini.

Since I’m only an amateur, there are some fail and good photos. So, here are some..

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Keindahan alam itu ternyata gak cuma sampai di situ. Malam harinya, dengan penerangan yang benar benar minim, bahkan memang tidak ada sumber cahaya apapun kecuali bulan. Kita bisa melihat ribuan kerlip kunang-kunang yang terbang dan hinggap di pohon ketapang tepat berada di atas tenda kami. begitu alami..

Image

Image

Captured by Citra Rahman. Foto ini juga dapat dilihat di http://hananan.wordpress.com/2013/04/09/pesona-keemasan-di-pantai-lhok-keutapang/

Dan kalau beruntung berdoalah supaya langit cerah dan kita bisa menikmati indahnya ribuan bintang bertaburan menghiasi langit malam, seperti malam itu. Terkadang bahagia itu sederhana, bagi kami berbaring di atas pasir di pinggir pantai yang sepi, dengan suara desiran ombak yang merdu, menikmati indahnya langit malam bertabur bintang dan ribuan kunang kunang yang memenuhi pohon ketapang itu sudah cukup. Meski terkadang kita menuntut lebih :).

Lhok Keutapang….. Checked

Baca juga cerita versi Citra dan cerita versi Ilham.

and now, lean back and enjoy the video 🙂

Menapaki Pulo Breuh (..Bagian 1)

Sepeda checked, Ransel checked. kali ini aku memutuskan untuk camping menyeberangi lautan, bersama Citra dan Nissa kami menyambangi Pulo Breuh. Pulo Aceh yang masih berada dalam kawasan Aceh Besar untuk melihat Mercusuar peninggalan kolonial Belanda, Willem Toren III. Pulo Aceh merupakan satu-satunya kecamatan kepulauan di wilayah administratif Aceh Besar.

Image

Bermalam di Pantai Balu – Pulo Breuh

Info dari beberapa blog tentang Pulo Breuh ini masih rancu. Padahal info yang terpenting adalah kondisi jalan desa dan jalan menuju Desa Meulingge, tempat dimana mercusuar Willem Toren berada. Info dari blog terakhir tentang Pulo Breuh yang aku baca menyebutkan jalanan di Pulo Breuh masih jalan tanah berbatu yang lumayan susah untuk dilewati oleh kendaraan bermotor, apalagi kalau kondisi hujan.

Dari pengalaman beberapa teman yang sudah pernah ke mercusuar, perjalanan dari Desa Gugop – tempat kapal berlabuh – menuju Desa Meulingge kurang lebih 2 jam dengan menggunakan motor. Berdasarkan info tersebut, akhirnya kami sepakat untuk menggunakan sepeda. Selisih waktu antara motor dan sepeda kami taksir sekitar 1 jam, jadi paling lama 3 jam dari dermaga Desa Gugop kami sudah bisa mencapai Desa Meulingge. Selain itu apabila jalannya susah untuk dilewati, sepeda lebih mudah dan ringan untuk diangkat.

Setelah menjemput Citra di Terminal Bus Batoh, Banda Aceh, kami menuju dermaga kecil Lampulo. Mencari info tentang kapal boat yang akan berangkat menuju ke Desa Gugop – Pulo Breuh. Kapal dari pelabuhan Lampulo akan berangkat ke Pulo Breuh pukul 2 siang setiap harinya, kecuali hari jum’at. Lama perjalanan dari Dermaga Lampulo ke Dermaga Pulo Breuh di desa Gugop sekitar 2 jam lebih sedikit.

Image

Kapal dari Lampulo ke desa Lampuyang juga ada. Dari dermaga Lampulo – Banda Aceh ke dermaga di Desa lampuyang – Pulo Breuh, memakan waktu hanya 1 jam 30 menit. Memang lebih singkat, namun dari Desa Lampuyang menuju Desa Gugop akan memakan waktu sekitar 30 menit lagi bersepeda atau 15 menit berkendara.

Pukul 2.10 WIB aku dan Citra sampai di dermaga lampulo. Sedangkan Nissa sudah terlebih dahulu sampai dan bertugas untuk membujuk awak kapal untuk menunggu kami. Beruntung sang nahkoda mau menunggu meskipun sedikit telat. Ternyata kapal memang belum akan berangkat, karena masih ada muatan penumpang yang dinaikkan ke kapal dan juga sepeda kami. Pukul 3.30 WIB KM. Jasa Bunda yang kami tumpangi mulai jalan perlahan menjauhi kota Banda Aceh.

ImageJangan bayangkan kapal menuju ke pulau ini seperti kapal besar yang bisa menampung ratusan penumpang dan puluhan kendaraan setiap harinya. Kapal ke Pulo Breuh sejatinya (<– Silet Infected) adalah kapal boat besar nelayan yang digunakan untuk mencari ikan di tengah laut. Meskipun ada sebagian penumpang yang memilih duduk dan terlindung sinar matahari siang itu karena mungkin ‘gak pakai sun block, aku, Citra dan Nissa bersama beberapa penumpang dan awak kapal lebih memilih duduk di geladak, menikmati teriknya sinar matahari siang itu. Kami membayar 15.000,-/orang untuk sekali jalan.

Dalam perjalanan itu kita bisa melihat Pulau Sabang, Pulau weh dan melewati Pulau Nasi. Meskipun ombak di tengah laut cukup besar dan membuat kapal sedikit terombang ambing, beruntung kami ditemani oleh beberapa ekor lumba-lumba hitam yang senantiasa berlompatan di sisi kanan dan kiri kapal. Aku, Citra dan Nissa tentu saja excited melihat pemandangan itu. Awak kapal disampingku mengajari untuk memukul-mukul beranda kapal agar lumba-lumba terus mengikuti walau hanya beberapa meter. Tapi sayang tidak sempat terekam kamera.

Pukul 4.30 wib kami tiba di daratan desa Gugop, mengingat perjalanan masih panjang kami langsung melanjutkan perjalanan. Dari dermaga, kami mengambil jalan ke kiri memasuki desa Gugop. Melewati PLTD kecil yang merupakan sumber tenaga listrik untuk seluruh desa di pulau ini.

Image

tiba di dermaga Desa Gugop – Pulo Breuh

Karena membawa wanita, kami berencana melaporkan kedatangan kami kepada kepala desa atau setidaknya orang yang berpengaruh di desa. Tapi sayang rumah yang kami pikir rumah kepala desa ternyata kosong, sehingga kami terpaksa tetap melanjutkan perjalanan.

Jalanan di Pulo Breuh itu ternyata bukan hanya jalan datar seperti di kota, kami langsung disuguhi oleh tanjakan dan jalan berbukit yang cukup menguras tenaga. Meskipun jalanan beraspal, tanjakan pertama langsung memaksa Nissa untuk beristirahat sejenak, pemandangan dari atas bukit memang cukup indah, tapi kami harus berkejaran dengan waktu agar tidak kemalaman di atas gunung.

Image

Jalan mendaki

Setelah istirahat beberapa kali, akhirnya kami meminta bantuan kepada seorang penduduk desa yang melintas dengan motornya untuk mengantarkan Nissa sampai ke desa berikutnya setelah bukit. Sementara aku dan Citra melanjutkan perjalanan dengan sepeda, meskipun beberapa kali terpaksa menuntun sepeda karena tanjakan yang terlalu tinggi. Perjalanan kali ini memerlukan kondisi fisik yang benar-benar prima.

Karena ternyata jalanan di Pulo Breuh ini sudah beraspal jadi tidak perlu khawatir lagi kalau ingin membawa kendaraan bermotor. Akan sangat menghemat tenaga 1000 kali dibandingkan dengan menggunakan sepeda pastinya. Tapi pastikan sebelumnya kendaraan yang akan dibawa sehat paling tidak 90%. Karena mencari bengkel setelah menjauhi dermaga sama sekali mustahil. Setidaknya sampai Februari 2013.

tapi tentu saja kepuasan dan pengalaman adventure naik sepeda dengan naik motor itu beda. Jadi tergantung kita mau ngerasain pengalaman yang gimana :).

Hari semakin gelap, kami memutuskan untuk bermalam di Pantai Balu. Pantai pertama yang kami temui setelah turunan tanjakan dari desa Gugop. Pantai indah yang sepi, sayang sore itu berawan, kami tidak dapat menikmati matahari terbenam.

Image

Pantai Balu – Pulo Breuh

Karena ternyata tidak satu orangpun diantara kami yang membawa pematik untuk menghidupkan api, alhasil malam itu kami menggunakan penerangan lampu senter seadanya. Tanpa ada api unggun dan masak memasak. Beberapa kali kami melihat lampu mobil melintas dari jalanan yang kami lalui di atas perbukitan tadi. Ternyata cukup jauh dan tinggi.

ImageBeruntung lagi Nissa masih menyimpan bekal nasi bungkus yang belum sempat dimakan tadi siang, dengan lauk yang sempat aku bawa dari rumah akhirnya kami makan seadanya dan beristirahat untuk mengisi kembali tenaga dan melanjutkan perjalanan ke tujuan utama; Mercusuar Willem Toren besok paginya..

Early Trip 2013 with My Selangor Story

There’s always a story to complete and new friend to meet at every adventure I’ve been made. And it would be an honor for me to be able to explore Selangor with many new friends in this myselangorstory competition. I wish…!! Ini paragraph terakhir dari tulisan kompetisi untuk my selangor story ku

And my early 2013 wishes do come true. Januari 2013 aku, Andika Setiawan seorang anak yang menyukai traveling dan adventure, yang tinggal di sebuah kota bagian barat di Indonesia, Banda Aceh, akhirnya bisa ikut menjadi bagian dalam program tourism selangor kali ini. Sementara beberapa kali ke Malaysia masih ada aja must visit place yang belum sempat dikunjungi. Dan kali ini, dengan MySelangorStory aku bersama 19 blogger lainnya akan mengexplore setiap bagian selangor selama 5 hari, mengunjungi tempat-tempat menarik yang harus dikunjungi ketika berada di Malaysia, kemudian bercerita tentang apa saja yang kami alami selama berlangsungnya kegiatan ini. Setiap moment menarik dengan foto yang menarik pula.

Image

Peserta MSS2013 dari Aceh

Mulai dari menginap di hotel berbintang dengan kenyamanan dan pelayanan yang luar biasa di Premiere Hotel – Klang, Arenaa Star Luxury Hotel – Kuala Lumpur, the amazing Golden Palm Tree Iconic Resort and Spa – Sepang dan juga Vivatel-Kuala Lumpur, menjadi pemegang member card AstuteXperience dengan keuntungan mendapatkan voucher diskon dan kemudahan lainnya serta harga hotel yang menjanjikan, mengitari Klang the Heritage City, mengunjungi Galeri DiRaja Sultan Abdul Aziz, Menaiki tram lucu ke Bukit Melawati dan melihat puluhan silfer-leaf monkey, Menyaksikan dan mengikuti festifal Thaipusam di Batu Caves yang gak akan terlupakan, bermain di wahana air Sunway Lagoon, Melakukan kegiatan menarik di Golden Palm Tree Resort & Spa seperti bersepeda dan senam Yoga, menikmati kuliner lezat dan tentu saja melihat ribuan kunang-kunang yang luar biasa indahnya di Kampung Kuantan.

Image

4 hotel mewah selama di MSS

Image

Kuliner lezat di Malaysia

Image

Klang beautiful building

ImageDan satu hal yang gak akan terlupakan tentu teman-teman yang menyenangkan yang membuat cerita perjalanan ini menjadi lebih lengkap dan menarik. Pengalaman bersama keluarga myselangorstory selama 5 hari merupakan pengalaman luar biasa di awal 2013. Dan semoga kesenangan ini akan terus berlanjut disetiap trip yang aku lakukan sepanjang tahun. Another wishes..

Image

little girl on Thaipusam festival

Image

Thaipusam Festival, Batu Caves

Mau tahu gimana ceritaku dan teman-teman menikmati perjalanan kami selama 5 hari bersama myselangorstory..?? Silahkan klik link cerita di bawah ini untuk mengetahui cerita selengkapnya. Enjoy my whole story people.. 🙂

Day 1: Klang, Another Beautiful Place in Selangor

Day 2: Getting Around Selangor

Day 3: Thaipusam: All wishes do come true

Day 4: Menyusuri Resort Mewah sampai ke Bukit Melawati

Day 5: Sampai Jumpa Selangor

Sampai Jumpa Selangor

Malam terakhir di Selangor, kami makan malam di River View Seafood Reataurant as seen in the photo below. it’s early dinner before sunset time. Restoran makanan laut dengan view sunset yang indah. Menikmati makanan laut yang seolah tak habis-habis. Makanan datang silih berganti memuaskan perut kami.

Image

River View Seafood Restaurant

ImageImageImage

Selanjutnya pergi ke Kampung Kuantan untuk menyaksikan kelap-kelip kunang-kunang. Ribuan kunang-kunang di sisi kanan dan kiri sungai menerangi setiap ranting pohon yang dihinggapi. Sayangnya suasana begitu gelap, dan pengunjung dilarang mengambil gambar dengan bantuan sinar flash agar tidak mengganggu pastinya. Jadi untuk teman-teman yang ingin menyaksikan keindahan kerlip ribuan kunang-kunang, silahkan datang langsung saja ke kampung kuantan :D.

Image

Kelap kelip Kampung Kuantan

Dari Kampung Kuantan kami langsung menuju Kuala Lumpur untuk check in di Vivatel Hotel, Kuala Lumpur. Vivatel Kuala Lumpur Hotel terletak di Jalan Loke Yew Cheras. Hotel bintang 4 ini memiliki  memiliki 302 kamar dan baru selesai pada tanggal 15 Desember 2012. Hotel unik yang memiliki elemen berbeda pada setiap lantai kamarnya. Hotel ini juga memiliki Free Shuttle Car yang bisa membawa tamu hotel menuju Kenanga Whosale City (KWC).

Seperti yang pernah saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, Vivatel merupakan salah satu hotel yang bekerjasama dengan AstuteXperience. Dan karena AstuteXperience juga akhirnya peserta My Selangor Story 2013 dapat menikmati bermalam di hotel mewah ini. Dengan lokasi startegis di tengah kota dan kita bisa menikmati indahnya suasana malam dengan kilauan lampu jalan di Kuala Lumpur bahkan dari dalam kamar hotel. dan malam itu, aku dan Helga -my room mate- tidur dengan membuka tirai jendela kamar. I love the view at night 🙂

Image

Image

Fire and water elemen room type

Image

Paginya, setelah selesai sarapan dan diajak melakukan Hotel Tour kami Check out dari Vivatel, kurang dari 10 menit, kami sampai di KWC salah satu pusat perbelanjaan baru yang masih satu manajemen dengan Vivatel Hotel.

Image

Di Kenanga Whosale City (KWC) kita masih sempat merasakan duduk di Old Town White Coffee, sebelum akhirnya diajak berkeliling pusat perbelanjaan retail ini. Mungkin lain kali ke sini sudah bisa berbelanja di Kenanga Wholesale City dengan harga-harga yang cukup murah untuk yang membeli borongan. Untuk yang punya toko, mungkin Pusat Perbelanjaan Retail di Kuala Lumpur ini bisa menjadi salah satu alternatif pilihan untuk belanja.

Tidak terasa perjalanan kami bersama teman-teman di my selangor story sudah selesai. Jadwal penerbangan pun sudah tiba, kami bersalaman dan mengucap perpisahan dengan blogger Malaysia. Dan tentu saja saja semoga dapat berjumpa kembali. Seperti yang sudah pernah saya katakan There’s always a story to complete and new friend to meet at every adventure we’ve been made. Terima kasih untuk semua teman-teman my selangor story yang membuat cerita ini complete. Terima kasih untuk Panitia MySelangorStory dan Tourism Selangor dan juga para sponsor. Semoga di tahun-tahun berikutnya masih bisa jalan-jalan bersama dengan my selangor story lagi. Terima Kasih untuk pengalaman yang tidak terlupakan.

Menyusuri Resort Mewah sampai ke Bukit Melawati

Malam ini peserta myselangorstory menginap di Golden Palm Tree Iconic Resort & Spa. Kedatangan peserta my selangor strory disambut dengan cukup antusias, tarian dan nyanyian sambutan serasa di Hawai. Setelah pembagian kamar, kami diajak berkeliling terlebih dahulu untuk mengenal lebih jauh bagian resort dan restaurant serta melihat semua fasilitas yang ada.

Image

Bersama penari-penari GPT Resort & Spa

Resort yang dibangun di atas air ini terletak di pinggiran pantai Bagan Lalang. Jika dilihat dari atas, bentuk resort ini benar-benar menyerupai pohon palm. Meskipun cukup jauh untuk menuju restoran ataupun lobi, pengunjung diberi kemudahan dengan adanya buggy yang tersedia dan siap mengantar kita dari dan menuju loby utama.

Image

All cottages seated on the water

Image

Buggy Boy in Action

Resort ini juga mempunyai 5 restaurant yang terletak di sekelilingnya. Restaurant Hai Sang Lou, Selat Bar, Stimbot, Perahu, Bila-Bila dan restoran Sepoi-Sepoi. Restaurant Perahu merupakan yang paling cozy. Restoran yang terletak di pinggir pantai ini merupakan tempat yang romantis untuk menikmati makan malam sambil menyaksikan indahnya matahari terbenam. Bagi yang suka clubbing sepertinya Selat Bar cukup menyenangkan untuk bergoyang.

Image

Perahu Restaurant

Image

Kami juga diajak melihat wahana extreme park yang menyajikan ATV, Archery, Go Kart dan Paint Ball. Begitu melihat circuit go kart aku langsung antusias. Sayang karena keterbatasan waktu dan tak disediakan waktu luang untuk menikmati semua wahana di resort ini, aku tidak bisa mencoba bermain go kart, tapi sepertinya ATV seru juga :D.

Image

Go Kart Circuit at GPT Resort and Spa

Setelah lelah mengelilingi resort, kami semua kembali ke kamar masing-masing untuk sekedar melepas penat dan membersihkan diri setelah pulang dari menyaksikan festival Thaipusam di Batu Caves. Kegiatan hari ini cukup melelahkan, dan pastinya cukup menyenangkan juga untuk berlama-lama menyegarkan tubuh di bawah shower.

Kali ini aku mendapat tambahan room mate, selain Helga, ada Ridha dan juga bang Rusli yang merupakan blogger asal Malaysia. Resort ini menyediakan 5 tipe kamar mewah yang siap memanjakan pengunjung. Tipe Travellers Palm, Premier Travellers Palm, Canary Palm, Ivory Palm, dan Royale Palm. Kami menempati kamar Canary Palm yang mempunyai 2 ruang tidur dan satu buah ruang tv. Serta teras disetiap sisi ruang tidurnya. Sangat memuaskan. Selepas maghrib, kami semua kembali berkumpul di Bila-Bila Cafe, tepat berada di depan kolam renang. Seperti di hotel sebelumnya, makan malam di sini juga sangat lezat, begitu pula makanan penutupnya.

Image

type kamar di GPT Resort & Spa

Kami menikmati makan malam sambil menyaksikan pertunjukan di panggung kecil di depan Bila-Bila Cafe. Dan entah bagaimana tiba-tiba semua peserta myselangorstory dipanggil ke atas panggung untuk melakukan dance show dengan para penari lainnya. That was sooo much fun. Dan setelah itu kami mengambil foto bersama dengan para penari.

Image

Salah satu pertunjukan saat makan malam

Image

Foto bareng setelah dance show

Image

Night view under full moon

Paginya, sunrise menyinari penginapan dari sela-sela tiap bangunan kamar. Aku bersama bang Rusli datang ke Bila-Bila Cafe terlebih dahulu untuk memulai sarapan. Beberapa saat kemudian teman-teman yang lain mulai berdatangan. Sarapan kali ini cukup membingungkan, seperti yang sudah pernah aku beritahu lidahku sangat Asia –  Indonesia, dan tentu saja kalau bukan nasi, bukan makan namanya :D. Akhirnya aku mengambil sepotong kentang yang ditumbuk dan dilapisi tepung, secangkir susu dan teh hangat.

Image

Puri; salah satu menu breakfast

Selepas sarapan kami semua menuju balkon di atas bila-bila cafe. Dan tentu saja semua sudah tidak sabar mempraktekkan Yoga. Latihan yoga untuk pertama kali bagi sebagian besar peserta mss. Sungguh menyenangkan. Meskipun berat, semua instruksi dari instruktur yoga kami ikuti dengan sukses.

Image

Group foto bersama instruktur yoga

Setelah bersenang-senang dengan Yoga, kami melanjutkan kegiatan dengan bersepeda mengelilingi seputaran resort. Banyak wahana permainan yang disediakan oleh pengelola di resort ini, Seperti watersports, ada sailing, cart sailing, speed sailing, canoe, hingga wind surfing. Tapi berhubung sudah mendekati waktu check out, kami bergegas mengepaki kembali barang di kamar dan berkumpul di Restoran Sepoi-Sepoi untuk makan siang.

Image

gowes – gowes

Image

Makan siang di Sepoi – Sepoi

ImageSetelah melakukan group foto untuk Golden Palm Tree, kami kembali menaiki bus persiaran. Dan kembali melanjutkan perjalanan. Selamat tinggal Golden Palm Tree, nice to see you :).

Note-

35 Minutes berkendara dari Sepang International F1 Circuit.

40 Minutes berkendara dari LCCT.

45 Minutes berkendara dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA).

65 Minutes berkendara dari Putra Jaya.

85 Minutes berkendara dari Kuala Lumpur.

Image

* * *

Matahari siang selangor menyengat cukup terik siang itu. Tour guide kami abang Safri bilang kali ini kita akan merasakan segarnya cendol bakar. Cendol Bakar ini ternyata cukup terkenal, begitu banyak kendaraan yang terparkir di depan warung kecil itu. Antrian pun lumayan panjang. Cerita punya cerita, cendol ini dinamakan cendol bakar karena gula malaka yang digunakan sebagai pemanis cendol ini sebelumnya dibakar terlebih dahulu, selain nama pemiliknya pun memakai nama yang sama, Bakar.

Image

Cendol Bakar VIP

Pengelola cendol ini pun cukup modern dengan menyediakan fasilitas drive through untuk pengunjung yang hanya ingin membeli dan membawa pulang. Yak, dan cendol Bakar ini adalah satu-satunya kedai Cendol penyedia Drive Through demi kenyamanan pelanggannya. Very impressive.

Image

Cendol Bakar

Image

Salah satu kedai jajanan di Cendol Bakar

* * *

Dari Cendol Bakar, kami menuju Bukit Melawati, Kuala Selangor untuk melihat Museum Sejarah Daerah Kuala Selangor. Untuk mencapai puncak pengunjung harus Menaiki tram unik yang bergambar seperti badut. Sayangnya ketika kami sampai disana museum tersebut tutup, dan perhatian peserta myselangorstory pun beralih kepada monyet-monyet silverleaf lucu yang terlihat begitu jinak dengan pengunjung.

Image

Tram Unik

Image

Cheers Up

Image

Silverleaf Monkeys

Image

Saat mencapai puncak Bukit Melawati, kita akan disambut oleh sebuah mercusuar indah yang disebut Altingsburg Lighthouse. Bukit Melawati ini terletak menghadap ke selat Melaka dan Sumatra. Bukit ini pernah dijadikan tempat bersemayam Sultan Abdul Samad sebelum baginda berpindah ke Bukit Jugra di Kuala Langat.

Image

Altingsburg Lighthouse

Menurut sejarah, Desa Melawati dulunya merupakan benteng pertahanan Kesultanan Selangor untuk memantau pergerakan kapal dagang dan kapal perang yang melalui Selat Malaka dan Kuala Selangor. Bukit ini juga dikenal sebagai Bukit Selangor di akhir 1700-an. Benteng ini dibangun di atas bukit untuk melindungi negara dari penyusup. Terdapat meriam sepanjang Bukit Melawati yang bertujuan untuk mempertahankan Selangor dari serangan Belanda.

Ironisnya, Belanda tidak menyerang dan malah mengambil alih benteng kemudian diperkuat dengan diletakkannya meriam oleh Belanda yang dapat kita lihat lihat di sana sekarang. Benteng ini juga pernah disebut Benteng Altingsburg ketika Belanda berkuasa.

so, enjoy your trip guys 🙂

Image

Suasana dari atas, Bukit Melawati

Thaipusam: All wishes do come true.

5.30am early morning kami check out dari Arenaa Star Luxury Hotel. Meskipun telat bangun karena rasanya baru saja memejamkan mata beberapa jam lalu, untungnya aku dan Helga -my room mate- selesai tepat waktu tanpa membuat yang lain menunggu.

Di dalam bus persiaran, kami diberikan sarapan sekedar untuk mengisi perut supaya tidak masuk angin. Airkon kat bus ni sejuk sangat lah. Kesempatan menyambung tidur yang sempat terganggu tidak kami sia-siakan. Meski hanya beberapa puluh menit, cukuplah untuk mengisi kembali tenaga yang belum pulih.

Image

Suasana kental India begitu terasa begitu kami memasuki kawasan Batu Caves. Aku begitu penasaran dengan festival ini. Sangat antusias untuk bisa melihat dari dekat Devotee dengan berbagai macam tusukan yang menembus kulit tubuh dan wajahnya sambil membawa kavadi yang telah dihias dengan cantik.

Image

Kavadi diantara kerumunan pengunjung

Iring-iringan Kavadi yang berhiaskan bulu merak mulai terlihat memasuki gerbang Batu Caves. Suara riuh tabuhan gendang mengiringi langkah Devotee dengan tusukan di punggung mereka serupa gelang-gelang kecil atau mata pancing besar yang kemudian digantungkan buah-buahan dan bejana perak. Gemerincing di kaki mereka ikut meramaikan tabuhan gendang setiap mereka melangkah.

Image

ImageImageImage

Meskipun terlihat sangat mengerikan dengan berbagai tusukan di tubuh dan wajah mereka, tetapi Devotees tidak merasakan sakit. Katanya sebelum festival Thaipusam, mereka melakukan puasa selama 48 hari sebelum membawa Kavadi. Serta mengikuti syarat dan kode etik yang ketat untuk mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental.

Image

ImageImage

Thaipusam merupakan festival keagamaan untuk Dewa Murugan. Setiap tahun, hampir satu juta Devotee dan ribuan wisatawan berkumpul di Batu Caves untuk memberi penghormatan kepada Dewa Murugan, dewa Hindu yang sangat dihormati. Hal ini diperingati pada bulan purnama di bulan Tamil pada kalender Hindu, yang jatuh pada akhir Januari atau awal Februari.

Image

Festival Thaipusam di Batu Caves dimulai dengan prosesi di Sri Mahamariamman Temple di Kuala Lumpur dan melakukan perjalanan selama 15 kilometer ke Batu Caves. Dan menaiki 272 anak tangga menuju kuil.

Image

Devotees dan ribuan wisatawan memenuhi Batu Caves

Image

The abhisegam paal atau susu sangat sering terlihat selama festival Thaipusam, karena mereka kebanyakan bersumpah untuk membawa kavadi dengan susu yang kemudian akan digunakan untuk memandikan dewa.

Image

Beruntung saya dapat melalui 272 anak tangga bersama ribuan orang lainnya dan masuk ke dalam Gua. Suasana di dalam gua terasa penuh sesak dengan lautan manusia dan bau dupa. Beberapa Devotee sudah melepaskan Kavadi yang dibawa. Sebagian mereka beristirahat, makan dan minum bersama, dengan ekspresi lega yang terpancar dari wajah mereka. Mereka datang dengan persembahan atas rasa syukur, terkabulnya hajat atau doa mereka, juga bagi mereka yang ingin melakukan pembersihan jiwa.

Image

Image

Suasana di dalam Gua Batu Caves

Image

Layaknya setiap perayaan keagamaan, tidak hanya sekelompok umat saja yang merasakan kegembiraan tetapi semua yang berada di sana ikut merasakan kelegaan dan kegembiraan yang sama. Untuk mereka, ini lah permohonan sekaligus pengorbanan yang mereka berikan kepada dewanya.

Karena waktu hampir pukul sebelas saya kembali mencoba menuruni anak tangga bersama ribuan orang dengan tujuan yang sama. Kembali berkumpul dengan peserta myselangorstory lainnya, untuk melanjutkan perjalanan kami. Berdesakan bersama pengunjung lain membuat saya menikmati sekali pengalaman ini. Lain waktu, mungkin saya akan berkunjung ke Batu Caves untuk menyaksikan lagi festival keagamaan termegah ini.

ImageImage

-Getting There-

Banyak transportasi publik Malaysia yang menuju Batu Caves dari pusat kota Kuala Lumpur. Biaya Taxi mungkin akan lebih mahal. Anda akan dikenakan RM30 – RM40 untuk sekali jalan. Jadi sebaiknya pilih saja KTM dari KL Sentral yang menuju Batu Caves dengan biaya hanya RM2. Tidak usah khawatir, transportasi publik di Malaysia dikelola dengan sangat baik oleh pemerintah, agar penumpang tetap merasa aman dan nyaman.

Selama festival Thaipusam, banyak bus umum banyak yang membawa Anda ke sana dari Stesen Puduraya dan Kotaraya. Lihat saja tanda di depan bus yang bertuliskan Batu caves. LRT dan KTM juga beroperasi sampai larut untuk mengakomodasi penumpang.

So, happy traveling