Mengejar Senja di Lhok Keutapang..

Akhir maret 2013, aku dan Citra -as my hiking mate- berencana untuk camping di Lhok Keutapang. Bersama Ilham, Bulek dan Karem kami akhirnya berkesempatan untuk merealisasikan perjalanan ini. Meskipun belum ada satu orangpun diantara kami berlima yang sudah pernah pergi ke pantai yang terletak di balik bukit ini, tapi banyak cerita menarik terdengar tentang indahnya Pantai Lhok Keutapang.

Image

Jalan mendaki menyusuri lereng dan melewati bukit langsung tersuguhkan dengan nikmatnya ketika menginjakkan kaki di jalan setapak. Beberapa kali kami terpaksa beristirahat setelah melangkah beberapa meter untuk kembali mengumpulkan tenaga dan mengambil nafas.

Karem bersikeras untuk memanggul sebuah galon air minum untuk persediaan selama bermalam di sana. Awalnya memang terlihat mustahil, meski pada akhirnya kami sangat berterima kasih memiliki Karem di dalam team ini. Memanggul satu galon penuh air minum jelas bukan hal kecil. Dalam 4 jam perjalanan mendaki dan menuruni bukit yang terjal dan berbatu. But he made it..

Image

(L/R) ILham, Karem, Hendri, Dicko, Citra

Jalan setapak menuju lhok keutapang ini memang jalan yang jarang dilalui banyak orang, jadi, banyak jalan yang masih perawan. Persimpangan dan jalan setapaknya juga banyak yg bikin galau. Perseteruan-pun terkadang sulit terhindari ketika kami akan memilih jalan mana yang akan kita tempuh dipersimpangan. See… milih jalan yang untuk naik gunung aja terkadang kita bingung, apalagi memilih jalan untuk masa depan.. 😀

Sebenarnya ada beberapa tanda belokan dan arah jalan yang harus diambil, ada ikatan plastik yang kebanyakan berwarna biru di pohon. Jadi, dibutuhkan kejelian mata untuk membaca sign-nya. Sangat disarankan untuk berlatih kecepatan mata sebelum melalui jalur ini, cobalah untuk bermain game Onet.

Setidaknya ada dua kali drama salah jalan dan tak tau arah dalam perjalanan kami ini.

Dikarenakan jalan tanah yang berbukit, terjal dan berbatu juga suhu di Aceh sehari-hari yang selalu di atas 300C, maka sangat disarankan untuk memakai pakaian yang nyaman. Pakailah pakaian dengan bahan casual. Jangan pernah coba-coba untuk memakai jaket, ataupun seragam kantoran.

Pakailah celana selutut untuk memudahkan bergerak dan mendaki. Tidak disarankan memakai jeans ataupun kain sarung, tapi kalau merasa nyaman dengan memakai jeans ya monggo silahkan…

Image

Keringat akan terus bercucuran selama perjalanan. Bawalah handuk kecil, atau kalau anak-anak yang suka naik gunung itu biasanya punya scraf yang biasa diikatkan di kepala untuk menghalangi tetesan peluh jatuh masuk ke mata. atau kalo gak bawa, kayak saya, berjalanlah tepat di belakang temanmu yang menggantungkan jaket atau sweaternya di bagian belakang ransel. Manfaatkan kesempatan itu untuk menjadikan jaketnya sebagai alat untuk menghapus keringat di dahimu. Tanpa sepengetahuannya juga tidak apa-apa, tapi kalo minta izin terlebih dahulu memang lebih bagus sih, meski terancam gak dibolehin.

Alas kaki sangat disarankan memakai sepatu, agar kaki terhindar dari goresan ranting pepohonan dan tajamnya batu karang menjulang.. #eeaa. Paling tidak, pakailah sandal gunung yang tidak licin agar menjaga tubuh tetap seimbang ketika menuruni lereng yang agak curam. Sangat tidak disarankan memakai sandal jepit, apalagi sandal hotel yang dengan sengaja anda bawa pulang. Jangan coba-coba memakai sandal kamar dengan design angry bird, hello kitty, doraemon dan sebagainya. Apalagi tidak memakai alas kaki.

Untungnya diantara kami berlima semua terkena luka gores, baik karena ranting ataupun karang. Saran saya, jika ketika pulang dari mendaki tubuh anda bebas goresan, tak ada salahnya untuk dengan sengaja menggores bagian jari, lengan ataupun kaki yang gampang terlihat, agar nampak lebih cool lah dengan bekas luka gores atau balutan handyplaster. Supaya nampak anak gunungnya gituu… #digampar

Akan banyak sesi istirahat dalam perjalanan. Jadi, jangan lupa untuk siapkan satu botol besar air mineral untuk perjalanan one way. Jadi dua botol besar air mineral cukup untuk perjalanan return. Dan ingat, itu perjalanan saja. Kalau ada rencana menginap satu malam, bawalah makanan dan minuman yang lebih dari cukup.

For your information, mata air terdekat dari pantai berjarak sekitar 30 menit perjalanan mendaki dengan kemiringan yang sangat melelahkan. Jadi gunakan air minum dan air bersih yang ada dengan sangat bijak.

Beruntung dalam perjalan kami kali ini ada Karem yang dengan ikhlas dan suka rela dan pastinya sanggup membawakan satu galon penuh air minum sampai ke tujuan. Saya juga sebenernya jujur ikhlas dan rela, tapi sayang kekuatan saya belum sampai pada tahap itu. Konon angkat 5 galon air dari luar sampe ke dalem rumah yang jaraknya kurang dari 5 meter aja istirahatnya 10 menit setiap galon. Jadi memang sebaiknya kita serahkan pada ahlinya saja *salaman dengan Karem*.

Sekitar 4 jam perjalanan melewati mungkin dua bukit curam dan berbatu akhirnya kami sampai pada sebuah padang ilalang terbentang luas di bawah kaki bukit Lhok Keutapang. Pemandangan yang sungguh menakjubkan langsung melenyapkan rasa lelah. Pasir putih dan air laut hijau tosca dan biru yang kontras. Pulau Bunta yang menurut cerita adalah sebuah pulau tak berpenghuni dengan pemandangan pantai yang tak kalah indahnya tepat berada di hadapan kami, menjulang di tengah laut.

Image

Image

Image

Sekitar pukul 4 sore saat kami tiba dan matahari masih bersinar terik seolah pukul 1 siang. Kami dengan tidak sabar langsung menceburkan diri dengan pasrahnya ke dalam laut. Beberapa ekor ikan hias berwarna warnipun ikut berenang diantara kami dengan riangnya. Disarankan untuk membawa alat snorkeling ataupun kacamata renang agar dapat menikmati terumbu karang yang tampak dan indahnya taman bawah laut dan ikan hias yang bertaburan di Pantai Lhok Keutapang ini.

Tapi juga begitu banyak pecahan batu karang yang menutupi pasir. Ombaknya juga terkadang lumayan besar sehingga banyak diantara kami yang tergores terkena karang laut ketika terhempas ombak. Jadi sebaiknya tetap memakai sandal gunung ketika berenang, agar lebih nyaman melangkah.

Image

Saya masih sangat antusias untuk berenang dengan ciamik diantara karang-karang tajam nan kokoh tertancap di dasar laut hijau bersemu nan tosca itu, ketika dalam perjalanan menuju sebuah mulut gua tempat kami akan mendirikan tenda, kami berpapasan dengan abang-abang yang ngakunya mahasiswa ekonomi, but obviously they’re not, according to their old faces. Dengan senyum sumringah salah satu dari mereka menenteng seekor ikan yang masih tergantung di mulut pancingnya. Aku melihat ikan malang berkepala ceper itu dengan tatapan sinis dan meyakinkan diri kalo itu adalah Suolaisen Monni atau bahasa inggrisnya Saltwater Catfish atau untuk lebih mudahnya dapat dibaca dengan Ikan Lele Air Asin.

Sebelum akhirnya Citra dan Ilham meyakinkanku bahwa ikan itu adalah seekor anak Ikan Hiu. Okay…anggaplah dia lele yang menyamar, bisa aja kan? Atau dia cuman lele yang mau nganggap dirinya hiu? Lele yang tertukar, Why not?? tapi tolonglah anggap dia tetap Ikan Lele 😥

Okay, i failed to convince myself that it was a catfish, but a little shark. Oke boys, it’s time to get out of this place…

Look.. Mereka mancing di pinggir pantai dan dapatnya anak hiu. That such a big thing for me. Pasti orang tuanya nyari kan? Ada gitu orang tua yang gak nyari kalo anaknya ilang? Konon lagi anaknya kena pancingan. Gak pernah nonton Finding Nemo ni orang pasti ya…

Image

Setelah bisa sedikit menenangkan diri dari tatapan nista anak hiu tadi, aku menyibukkan diri dengan mencoba mendirikan tenda. Kami mendirikan dua buah tenda di depan sebuah mulut gua. Mengumpulkan beberapa ranting kering untuk dibakar. Dan ketika langit mulai menampakkan mega kemerahan, sebelum matahari turun ke permukaan laut, aku dan Citra mengambil posisi dan mencari tempat untuk mengambil momen indah matahari terbenam di Lhok Ketapang ini.

Since I’m only an amateur, there are some fail and good photos. So, here are some..

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Keindahan alam itu ternyata gak cuma sampai di situ. Malam harinya, dengan penerangan yang benar benar minim, bahkan memang tidak ada sumber cahaya apapun kecuali bulan. Kita bisa melihat ribuan kerlip kunang-kunang yang terbang dan hinggap di pohon ketapang tepat berada di atas tenda kami. begitu alami..

Image

Image

Captured by Citra Rahman. Foto ini juga dapat dilihat di http://hananan.wordpress.com/2013/04/09/pesona-keemasan-di-pantai-lhok-keutapang/

Dan kalau beruntung berdoalah supaya langit cerah dan kita bisa menikmati indahnya ribuan bintang bertaburan menghiasi langit malam, seperti malam itu. Terkadang bahagia itu sederhana, bagi kami berbaring di atas pasir di pinggir pantai yang sepi, dengan suara desiran ombak yang merdu, menikmati indahnya langit malam bertabur bintang dan ribuan kunang kunang yang memenuhi pohon ketapang itu sudah cukup. Meski terkadang kita menuntut lebih :).

Lhok Keutapang….. Checked

Baca juga cerita versi Citra dan cerita versi Ilham.

and now, lean back and enjoy the video 🙂

Advertisements

14 thoughts on “Mengejar Senja di Lhok Keutapang..

    • Wah kalo dulu kita gak perlu pake izin. Soalnya gak bawa cewe.
      Kalo untuk kampung terdekatnya mungkin ujung pancu itu kalo gak salah.

      Beberapa minggu lalu ada beberapa teman yang naik juga perlu pake izin kok. Kalo mesti pake izin repot juga ya..

  1. superb bang,,suuuuupeeeerrr #franky style
    aku juga pernah kesini, tapi belum ada pengalaman nulis kata2 “bodoh” kayak gini (semoga di mudahkan dalam segala urusan -_-)
    baideweiy, kata2 dalam blog ini super mampus ngakak bang,,hahahaha 😀
    selera kita sama (11-30), jangan2 kitaaa……..bodoh -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s