Menapaki Pulo Breuh (..Bagian 2; End)

Minggu pagi, aku terbangun di dalam tenda. Samar terdengar dua orang bercakap di luar. Berat sekali rasanya untuk menggerakkan badan. Apalagi tiba-tiba tersadar kalau ini hari minggu. Tapi suara ombak dan keinginan untuk menghirup udara pagi dipinggir pantai membuatku terpaksa membuang rasa malas itu.

Ku keluarkan kepalaku dari tenda untuk melihat dunia. Ahh..rasanya dunia begitu damai ketika bangun, menghirup udara pagi, mencium bau rumput basah, melihat jernihnya langit dengan pemandangan pantai serta deburan ombak. Yahh..kalo jam 9.00 wib itu masih boleh dibilang pagi :D.

Image

Bangun Pagi di Pantai Balu

Well, today is a big day. Saatnya menyiapkan tenaga untuk menuju Desa Meulingge, melihat mercusuar. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan kemarin, dan melewati malam gelap gulita. Pagi ini tubuhku sudah terasa segar kembali.

Nissa memutuskan untuk kembali ke Desa Gugop dengan menumpang truk yang lewat. Dengan keadaan Nissa yang kurang fit, dan melihat keadaan jalan di Pulo Breuh yang berbukit sejauh mata memandang, keputusan untuk menunggu aku dan Citra di Gugop adalah keputusan yang tepat.

Pukul 10.00 WIB aku dan Citra mulai bergerak menuju Desa Meulingge dari Pantai Balu. Berbekal satu bungkus nasi pagi dan 2 botol besar air mineral, dengan semangat muda kami mengayuh sepeda, tapi belum sampai 50 meter mengayuh di jalan aspal menuju tanjakan, kami memutuskan untuk menarik napas lebih panjang dan beristirahat sejenak.

Image

perjalanan ke Desa Meulingge

Dan entah kenapa sepertinya matahari cukup tekun terus bersinar dengan terik tanpa rasa bersalah dan dengan senang hati membakar kulit kami. Setiap ada jalan menurun rasanya seperti disiram air dingin dan disuguhi ice cream dung dung. Tapi ingatlah satu hal, setiap ada turunan, pasti ada tanjakan. Jalan tanjakan ini seperti tak berujung, sangat tidak sebanding dengan jalan turunan dengan perbandingan 70 : 30 #eaaa.

Sudah 1 jam kami jalan, dan sekarang matahari mulai kelihatan dua. Setiap tanjakan kami lalui dengan menuntun sepeda. Setiap ada jalan turunan, aku mulai curiga kalau itu hanyalah godaan, karena setelahnya pasti ada tanjakan yang dua kali lebih berat. *pasang kopiah*

Akhirnya kami memasuki Desa Rinon, sekitar 1 – 2 Km jalannya masih pengerasan dan alhamdulillah jalannya tidak menanjak. Yah.. setidaknya tidak perlu ada adegan mendorong sepeda untuk beberapa saat. Dari cerita yang saya curi dengar dari seorang penduduk Pulo Breuh, konon Desa Rinon ini merupakan awal perhitungan pengukuran kepulauan di Indonesia, RI 0 (nol), sebelum akhirnya dipindahkan ke Pulau Sabang. Jadi asal mula nama Desa Rinon itu diambil dari kata RI Nol (0).

Itu ceritanya lho, belon tau bener atau enggak. Mungkin nanti kalo ada yang ke Pulo Breuh boleh coba ditanya sama orang-orang tua setempat yang tahu sejarahnya. Bisa dikomen di blog ini atau email ke saya. Jadi kalo salah bisa dibenerin 🙂

Sampai di ujung Desa Rinon, matahari semakin meninggi. Sedikit lega sampai juga di tanda KM 0, tapi ternyata perjuangan belum usai. Disebelah tulisan KM 0 ternyata ada tulisan yang semua sinetronnya teh Desy Ratnasari kalah sedih, disitu tertulis jelas dengan huruf kapital 5 KM MLG. Artinya?? Wassalam.

ImageDengan persediaan air yang mulai menipis, aku dan Citra memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Dengan makanan sederhana sebungkus nasi putih dan ikan sambal, tapi demi Allah yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya, rasa ikan goreng kecil dan nasi yang kami bagi untuk berdua itu adalah makanan paling lezat yang pernah aku rasa seantero jagad raya. If you know what i mean.

Sekecil apapun manfaat suatu barang untukmu, ketika kamu sangat membutuhkannya dan ia tersedia, itu adalah barang paling berharga untukmu. Jadi, bersyukurlah

Setelah mengisi kembali sisa-sisa tenaga, kami melanjutkan perjalanan. Pupus sudah harapan menaklukan Mercusuar Willem Toren dalam waktu 3 jam bersepeda. Puncak dari kekuatan kami adalah Willem Toren, bahkan kami belum berani memikirkan cara kembali ke Desa Gugop ketika kami berhasil sampai ke Willem Toren.

Image

Perjalanan masih panjang, 5 KM dengan jalan menanjak yang kami sendiri belum tahu ujungnya. Masih ada beberapa kali lagi istirahat dan adegan mendorong sepeda serta cucuran keringat yang akan menemani perjalanan kami.

Sampai akhirnya kami melihat pantai indah di ujung turunan terakhir. Dan semoga itu juga tanjakan terakhir sampai Desa Meulingge. Sekitar 2 Km lagi jalanan yang kami tempuh sampai ke Meulingge masih dalam pengerasan.

Image

aliran sungai kecil dalam perjalanan ke Meulingge

Image

Kami tiba di depan bangunan sekolah dasar dan deretan rumah kopel di depannya. Di sini kami berjumpa dengan bang Nazar yang merupakan orang pribumi dari Dari desa Meulingge, dan mas Zein seorang pemuda jawa yang ditugaskan di Meulingge sebagai guru dari program SM3T. Di mess ini lah kami melepaskan penat dan meluruskan kaki sejenak.

Dengan besar hati mas Zein memberi kami tambahan air untuk melanjutkan perjalanan ke mercusuar. dari mas Zein juga kami tahu kalu perjalanan ke Lampu (sebutan warga setempat untuk mercusuar) akan memakan waktu sekitar 60 menit. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kami menitipkan sepeda di rumah mereka, dan melanjutkan perjalanan mendaki melewati perbukitan dan menyusuri hutan.

Image

bersama mas Zen dan bang Nazar

Tepat 60 menit kami berhasil mencapai mercusuar itu. Rasanya ada kelegaan yang luar biasa ketika melihat bangunan tua peninggalan Belanda itu menjulang tinggi seolah gedung pencakar langit yang diletakkan di ujung pulau. Jadi, kalau dikalkulasikan seluruh perjalanan kami mulai dari Desa Gugop sampai ke Mercusuar Willem Toren III di Meulingge lebih-lebih (gak ada kurangnya) 5 jam 30 menit. Not bad, really 😀

Beberapa bangunan tua yang dijadikan tempat tinggal juga kelihatan tidak terurus. Kalau saja bukan siang hari tentu saja bangunan-bangunan di sekitar mercusuar ini akan tampak sangat menyeramkan. Hanya bangunan mercusuar saja yang kelihatan berwarna.

Image

Mercusuar Willem Toren

Image

Ada tiga orang penjaga yang bergantian berjaga dan mengoperasikan mercusuar ini. Setelah bersalaman dan meminta izin, kami mencoba memasuki mercusuar dan naik sampai ke tingkat tertinggi. Sayang bangunan ini kurang dapat perhatian. Kayu-kayu di dalam bangunan dan besi dari tangga spiral menuju ke atas sudah berkarat dan lapuk dimakan usia. Bahkan ada beberapa anak tangga yang patah dan hilang. Meskipun begitu Pemandangan dari atas benar-benar sungguh luar biasa. Kami menikmati titik teratas dari pulau ini. Melepas lelah yang terbayar oleh kebebasan jiwa.

Image

Image

Image

Tidak ada satu benda pun yang dapat mempretasikan penglihatan mata dalam kata.

15 menit berada di mercusuar terasa cukup. Tepat pukul 3 siang kami memutuskan untuk kembali. Lelah masih belum hilang, keringatpun masih belum kering. Di dalam hutan menuju perjalanan turun, aku dan Citra mulai berhalusinasi, ditambah perut yang mulai keroncongan lagi. Kelelahan yang maksimal membuat kami tersadar bahwa hal-hal kecil ternyata sangat berarti dari atas sini.

Bagaimana tidak kalau tiba-tiba aku sangat menginginkan bakso dan ice cream. Bayangan magnum dan buah-buahan segar mulai berloncatan di kelopak mata. Keinginan Citra juga tidak kalah parahnya, es cendol terasa sangat menggoda, ice cream gunung salju pun menjadi pembicaraan kami. Kami berjanji jika sampai Banda Aceh, semua yang kami ingin di gunung tadi harus kami makannnnnnn….. (finger crossed)

45 menit terasa sangat lambat dalam perjalanan turun. Akhirnya kami sampai. Kami mulai merencanakan untuk menyewa kendaraan yang dapat mengantar kami kembali ke Desa Gugop. Tapi ternyata mas Zen lagi-lagi dengan berbesar hati bersedia memberikan bantuan untuk mengantarkan kami dengan motornya sampai ke dermaga. Semoga Allah selalu bersama orang-orang yang ikhlas.

Bergantian mas Zen mengantar aku dan Citra melewati setiap tanjakan yang membuatku berfikir 10-11 kali lagi untuk bersepeda ke Pulo Breuh. Sampai di Pantai Balu, kami bertemu Pak Busra yang bersedia menumpangi sampai ke dermaga, karena beliau juga akan ke dermaga. Masyarakat di Pulau ini sungguh ramah dan ikhlas. Bantuan yang mereka berikan tidak pernah berharap imbalan, salut sekali dengan mereka.

Sampai di desa Gugop, kami kembali berkumpul dengan Nissa dan bercerita tentang perjalanan ke mercusuar tadi. Duduk di sebuah warung di dermaga dan menikmati segelas teh hangat dan melepas lelah serta terlepas pula juga halusinasi keinginan mencicipi semua makanan sampai di Banda Aceh. Hahahahaha.

Image

Makan malam

Image

Masak yang tertunda

Malam terakhir di Pulo Breuh kami bermalam di Pantai Lambaro, tidak jauh dari dermaga. Mas Zen masih setia menemani kami. Beliau bercerita banyak tentang Pulo Breuh, kehidupan dan pendidikan di pulau. Aahh..selalu salut dengan guru dan pemuda yang peduli dengan pendidikan. Salut dengan semangat dan keikhlasannya..

Sekitar pukul 10 malam, mas Zen pamit untuk kembali, karena besok beliau harus mengajar. Dan kami pun mengucapkan salam perpisahan untuk kembali ke Banda Aceh esok paginya. Terima kasih mas Zen atas bantuan dan keikhlasannya. Jangan bosen-bosen bantuin lagi kalo kami ke pulau :D.

Well, finally paginya kami harus kembali ke Banda Aceh. Ketinggalan kapal itu pedih jenderal. Dengan alasan yang tidak jelas, kapal hari itu berangkat pukul 7.55 WIB. Padahal seharusnya pukul 8.00 WIB. Karena tepat pukul 8.00 kami tiba, para penumpang udah berdadah-dadah aja dari kapal yang perlahan mulai menjauhi dermaga.

Kami mulai panik, karena Nissa harus berangkat kembali ke Jakarta pukul 4.00 sore. Dengan bantuan bapak-bapak yang baik hati di warung kopi dermaga akhirnya ada perahu boat nelayan yang bersedia mengantar kami dengan biaya Rp. 600.000,- sampai ke pendaratan Ule Lhee, Banda Aceh.

Pengalaman yang paling seru dalam perjalanan kembali ke Banda Aceh adalah ketika perahu boat yang kami tumpangi akhirnya mengalami kerusakan mesin, dan kami terombang ambing hampir 30 menit di tengah lautan luas tak berujung. Rasanya bercampur aduk, aneh, takut, seru, adventure it is. Sampai akhirnya perahu nelayan lain lewat dan kami berpindah kapal, dan selamat sampai tujuan. Pengalaman itu gak akan terlupakan dan gak bisa diganti dengan apapun.

Semoga lain kali masih bisa kembali ke pulau breuh, dengan bekal pengalaman yang berbeda pastinya :).

Pulo Breuh, been there done that 🙂

Lihat video perjalanan kami ke Pulo Breuh di bawah ini.

Advertisements

21 thoughts on “Menapaki Pulo Breuh (..Bagian 2; End)

  1. Huahahahahahaha… mengigau eskrim dan es cendol itu emang paling heboh! Tapi someday harus balik lagi dengan sepeda….sepeda motor! Dan camping di bawah mercusuar. 😀

  2. Pingback: Mencapai Batas Barat Indonesia | Citra Rahman

  3. Pingback: Berjuang untuk Pulang. | JollieFemme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s