Menapaki Pulo Breuh (..Bagian 1)

Sepeda checked, Ransel checked. kali ini aku memutuskan untuk camping menyeberangi lautan, bersama Citra dan Nissa kami menyambangi Pulo Breuh. Pulo Aceh yang masih berada dalam kawasan Aceh Besar untuk melihat Mercusuar peninggalan kolonial Belanda, Willem Toren III. Pulo Aceh merupakan satu-satunya kecamatan kepulauan di wilayah administratif Aceh Besar.

Image

Bermalam di Pantai Balu – Pulo Breuh

Info dari beberapa blog tentang Pulo Breuh ini masih rancu. Padahal info yang terpenting adalah kondisi jalan desa dan jalan menuju Desa Meulingge, tempat dimana mercusuar Willem Toren berada. Info dari blog terakhir tentang Pulo Breuh yang aku baca menyebutkan jalanan di Pulo Breuh masih jalan tanah berbatu yang lumayan susah untuk dilewati oleh kendaraan bermotor, apalagi kalau kondisi hujan.

Dari pengalaman beberapa teman yang sudah pernah ke mercusuar, perjalanan dari Desa Gugop – tempat kapal berlabuh – menuju Desa Meulingge kurang lebih 2 jam dengan menggunakan motor. Berdasarkan info tersebut, akhirnya kami sepakat untuk menggunakan sepeda. Selisih waktu antara motor dan sepeda kami taksir sekitar 1 jam, jadi paling lama 3 jam dari dermaga Desa Gugop kami sudah bisa mencapai Desa Meulingge. Selain itu apabila jalannya susah untuk dilewati, sepeda lebih mudah dan ringan untuk diangkat.

Setelah menjemput Citra di Terminal Bus Batoh, Banda Aceh, kami menuju dermaga kecil Lampulo. Mencari info tentang kapal boat yang akan berangkat menuju ke Desa Gugop – Pulo Breuh. Kapal dari pelabuhan Lampulo akan berangkat ke Pulo Breuh pukul 2 siang setiap harinya, kecuali hari jum’at. Lama perjalanan dari Dermaga Lampulo ke Dermaga Pulo Breuh di desa Gugop sekitar 2 jam lebih sedikit.

Image

Kapal dari Lampulo ke desa Lampuyang juga ada. Dari dermaga Lampulo – Banda Aceh ke dermaga di Desa lampuyang – Pulo Breuh, memakan waktu hanya 1 jam 30 menit. Memang lebih singkat, namun dari Desa Lampuyang menuju Desa Gugop akan memakan waktu sekitar 30 menit lagi bersepeda atau 15 menit berkendara.

Pukul 2.10 WIB aku dan Citra sampai di dermaga lampulo. Sedangkan Nissa sudah terlebih dahulu sampai dan bertugas untuk membujuk awak kapal untuk menunggu kami. Beruntung sang nahkoda mau menunggu meskipun sedikit telat. Ternyata kapal memang belum akan berangkat, karena masih ada muatan penumpang yang dinaikkan ke kapal dan juga sepeda kami. Pukul 3.30 WIB KM. Jasa Bunda yang kami tumpangi mulai jalan perlahan menjauhi kota Banda Aceh.

ImageJangan bayangkan kapal menuju ke pulau ini seperti kapal besar yang bisa menampung ratusan penumpang dan puluhan kendaraan setiap harinya. Kapal ke Pulo Breuh sejatinya (<– Silet Infected) adalah kapal boat besar nelayan yang digunakan untuk mencari ikan di tengah laut. Meskipun ada sebagian penumpang yang memilih duduk dan terlindung sinar matahari siang itu karena mungkin ‘gak pakai sun block, aku, Citra dan Nissa bersama beberapa penumpang dan awak kapal lebih memilih duduk di geladak, menikmati teriknya sinar matahari siang itu. Kami membayar 15.000,-/orang untuk sekali jalan.

Dalam perjalanan itu kita bisa melihat Pulau Sabang, Pulau weh dan melewati Pulau Nasi. Meskipun ombak di tengah laut cukup besar dan membuat kapal sedikit terombang ambing, beruntung kami ditemani oleh beberapa ekor lumba-lumba hitam yang senantiasa berlompatan di sisi kanan dan kiri kapal. Aku, Citra dan Nissa tentu saja excited melihat pemandangan itu. Awak kapal disampingku mengajari untuk memukul-mukul beranda kapal agar lumba-lumba terus mengikuti walau hanya beberapa meter. Tapi sayang tidak sempat terekam kamera.

Pukul 4.30 wib kami tiba di daratan desa Gugop, mengingat perjalanan masih panjang kami langsung melanjutkan perjalanan. Dari dermaga, kami mengambil jalan ke kiri memasuki desa Gugop. Melewati PLTD kecil yang merupakan sumber tenaga listrik untuk seluruh desa di pulau ini.

Image

tiba di dermaga Desa Gugop – Pulo Breuh

Karena membawa wanita, kami berencana melaporkan kedatangan kami kepada kepala desa atau setidaknya orang yang berpengaruh di desa. Tapi sayang rumah yang kami pikir rumah kepala desa ternyata kosong, sehingga kami terpaksa tetap melanjutkan perjalanan.

Jalanan di Pulo Breuh itu ternyata bukan hanya jalan datar seperti di kota, kami langsung disuguhi oleh tanjakan dan jalan berbukit yang cukup menguras tenaga. Meskipun jalanan beraspal, tanjakan pertama langsung memaksa Nissa untuk beristirahat sejenak, pemandangan dari atas bukit memang cukup indah, tapi kami harus berkejaran dengan waktu agar tidak kemalaman di atas gunung.

Image

Jalan mendaki

Setelah istirahat beberapa kali, akhirnya kami meminta bantuan kepada seorang penduduk desa yang melintas dengan motornya untuk mengantarkan Nissa sampai ke desa berikutnya setelah bukit. Sementara aku dan Citra melanjutkan perjalanan dengan sepeda, meskipun beberapa kali terpaksa menuntun sepeda karena tanjakan yang terlalu tinggi. Perjalanan kali ini memerlukan kondisi fisik yang benar-benar prima.

Karena ternyata jalanan di Pulo Breuh ini sudah beraspal jadi tidak perlu khawatir lagi kalau ingin membawa kendaraan bermotor. Akan sangat menghemat tenaga 1000 kali dibandingkan dengan menggunakan sepeda pastinya. Tapi pastikan sebelumnya kendaraan yang akan dibawa sehat paling tidak 90%. Karena mencari bengkel setelah menjauhi dermaga sama sekali mustahil. Setidaknya sampai Februari 2013.

tapi tentu saja kepuasan dan pengalaman adventure naik sepeda dengan naik motor itu beda. Jadi tergantung kita mau ngerasain pengalaman yang gimana :).

Hari semakin gelap, kami memutuskan untuk bermalam di Pantai Balu. Pantai pertama yang kami temui setelah turunan tanjakan dari desa Gugop. Pantai indah yang sepi, sayang sore itu berawan, kami tidak dapat menikmati matahari terbenam.

Image

Pantai Balu – Pulo Breuh

Karena ternyata tidak satu orangpun diantara kami yang membawa pematik untuk menghidupkan api, alhasil malam itu kami menggunakan penerangan lampu senter seadanya. Tanpa ada api unggun dan masak memasak. Beberapa kali kami melihat lampu mobil melintas dari jalanan yang kami lalui di atas perbukitan tadi. Ternyata cukup jauh dan tinggi.

ImageBeruntung lagi Nissa masih menyimpan bekal nasi bungkus yang belum sempat dimakan tadi siang, dengan lauk yang sempat aku bawa dari rumah akhirnya kami makan seadanya dan beristirahat untuk mengisi kembali tenaga dan melanjutkan perjalanan ke tujuan utama; Mercusuar Willem Toren besok paginya..

Advertisements

9 thoughts on “Menapaki Pulo Breuh (..Bagian 1)

  1. Pingback: Hampir Gagal ke Pulo Breueh | Citra Rahman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s