Camping Ala Amatir Campinger: Lhok Mata Ie, Aceh – Indonesia

Image

….Masuk blog diem-diem, kucek2 mata, bersihin laba2.. 😀

It’s been a long long time…!! anyone miss my story? –> minta ditabok.

Many many story to write but, some of ‘em are not interesting, tricky, garing (absolutely) dan kebanyakan personal to tell. Tapi Setelah melewati banyak cobaan, akhirnya dipilihlah hari dan tanggal baik, Friday the 13th, 2012 di bulan sya’ban untuk memulai kembali petualangan di dunia perblogan ini.

Setelah ada beberapa suntikan spirit dan new passion yg membuatku horny untuk menulis lagi, dari beberapa teman, yang tidak mau disebut namanya kayak bang Riga Sanjaya, baginda ratu Sri Wulan Aprilia [special thanx udah berpartisipasi untuk membantu saya menemukan kalimat pertama di tulisan ini –  seolah2 novel :)] juga Citra Rahman serta seorang anak yang namanya ber-ini-sial Ahmad Alchindi, akhirnya aku sempet-sempetin nulis lagi di blog yang udah mati suri ini, yahh..demi menyirami dahaga mereka akan dongeng sebelum tidur.

Sebagai seorang baby boy yang pendiem, yang malem minggu biasanya cuma tongkrongin Formula One atau MotoGP di tipi, aku butuh suatu gebrakan demi bisa eksis di dunia fana ini. Jadilah hari sabtu, 7 Juli 2012 kemaren, aku sama dua temanku, Citra dan Kindi, memberanikan diri untuk camping di Lhok Mata Ie, Aceh Besar. Udah lama sih planingnya, tentang kunjungan pertama ke pantai Lhok Mata Ie udah pernah diceritain sama Citra di sini. Tapi kelengkapan peralatan camping primernya baru punya sekarang, kayak tenda, matras dan sleeping bag. Itu aja sih yang penting. Soalnya kalo mau camping di hutan atau di pinggir pantai pake buat gubuk dulu kan repot juga.

Setelah satu bulan penuh Banda Aceh didera panas terik kemarau yang menggebu-gebu, lah giliran mau mendaki kok ya malah turun hujan?? Sempet ciut juga, ketika awan hitam masih menggelayut manja di atas kota Banda Aceh sampe pukul 3 sore, ditambah angin dan percikan-percikan rintik gerimis yang menemani disetiap langkah jiwa-jiwa muda yang hilir mudik di jalanan. Ngapain mudik coba, lebaran masih satu bulan lagi?

Akhirnya sekitar pukul 4 sore, petualangan kami dimulai. Jangan coba coba samakan petualangan kami ini dengan petualangan si Unyil atau si Bolang. Tapi Ini adalah kisah Dora the Explorer..

Ketauan tontonan gw kan yahh..

Jadi, Petualanganku kali ini menuju sebuah tempat semacam private beach yang letaknya di balik bukit ujung pancu di pinggiran kota Banda Aceh.  Tempat ini sering digunakan oleh para pria-pria yang punya hobi semacam memancing. Kinda like weird ya cuma buat mancing mereka bela-belain naik turun gunung dengan medan yang tricky, tapi ya dibenak mereka pas ngeliat orang camping mungkin juga ada gitu semacam pikiran ‘nih anak-anak udah pada gila ya bela-belain naik turun gunung Cuma buat camping, trus pulang tanpa ada hasil gitu?’

Dont try this at home ya, itu namanya suudzon..

Padahal dalam pikiran bapak-bapak itu ‘ya ampun, keren yah anak-anak sekarang masih ada yang mau mencari keheningan dan meninggalkan hiruk pikuk dunia, sungguh saya kagum dengan remaja-remaja seperti mereka dengan pikiran positifnya sekarang’

Langsung salaman dan pelukan sama si bapak.

Berhubung naiknya udah agak telat, sekitar pukul 16.30 wib, dan butuh waktu satu jam berada di dalam hutan untuk mencapai tujuan, kami gak punya banyak waktu untuk bersenda gurau dengan monyet-monyet yang berseliweran di pepohonan. Sesi pemotretan dengan satwa liar pun banyak yang kami batalkan.

Image

Narsis di meeting point pertama

Di meeting point pertama, tau meeting point kan? Udah, gak usah coba-coba cari di Google. Jadi, meeting point itu semacam tempat istirahat para pendaki dan penurun (semacam aneh ni bahasanya), kalo kira-kira rada capek. Jadi bisa ngaso-ngaso dulu. Kalo yang narsis ya silahkan foto-foto dulu juga boleh. Itu kayak poto disamping. Nah, jadi di situ kita berselisih jalan dengan para petani rotan, juga beberapa kelompok pendaki yang hendak turun. Isu-isu yang berhembus dari para pendaki yang turun tadi ada sekitar tiga sampai empat tenda yang sudah terpasang di sana. Memang sih dia gak bilang apakah itu tenda biru, warung tenda atau semacam tenda hajatan. Tapi yang tersirat dari ucapan lelaki muda tadi adalah disana rame.

Jederr…Pikiran aku, Kindi dan Citra semakin kalut. aku ngeliat ke arah Kindi, dan Kindi ngelihat ke arah Citra, sementara Citra ngeliat ke arah ku. Semacam ada cinta segitiga diantara kami. Halaahhh…

Sebenernya yang kita takutin bukan gak ada lahan untuk mendirikan tenda, tapi you know what? Tenda yang kami bawa masih virgin dan bahkan belon dibuka dari bagnya. Belon ada yang pernah pasang tenda juga!! Bukan suatu kebanggaan kan kalo pas nyampe  trus kita samperin anak-anak kemahan lainnya dengan senyum lebar dan manis ala boyband sambil melintir-melintir ujung rambut, trus bilang.. ‘bang, bisa bantuin pasangin tenda gak?’

Niscaya kami akan dijadikan umpan untuk ikan Hiu oleh mereka

Bak disambut dengan bentangan pasir putih dan karang-karang kokoh, aroma asin air laut dan udara pegunungan segar langsung menyeruak membabi buta kedalam pikiran pas nyampe tempat tujuan. Man…its freedom. Cuma ada dua tenda di sana. Satu buah tenda dome yang sudah terpasang, dan satunya lagi hanya tenda terpal yang dikaitkan pada dua buah pohon, ekstrim sekali. Ahh..isu dari pendaki yang turun tadi benar-benar tidak dapat dipercaya.

Kami langsung dapat tempat strategis tepat di tebing bibir pantai. Setelah ber-say hello dengan abang-abang dan adik-adik yang sudah mendirikan tenda terlebih dahulu. Demi menahan gengsi sebagai pendaki amatiran, kita langsung membuka tenda dan merakit tiap potongan besi, melihat gambar dan yang pasti aku mencoba mengingat cara pasang tenda yang pernah diajarin si abang penjual tenda, melalui bahasa tubuhnya. Kenapa coba gak ada inisiatif orang yang menciptakan tenda ini untuk menyertakan sekalian package tutorial cara memasang tenda yang baik dan benar? Sekalian sama Cdnya gitu. Huwwfftt.

Citra sangking groginya langsung pura-pura ambil kamera, trus pura-pura gila potoin laut. Tapi, gak lebih dari 10 menit, Tadaaaa.. kita berhasil mendirikan tenda dome orange ku yang mungil dan manis.

Aku terpana melihat keberhasilan kami mendirikan tenda ini. Merenung, terharu, sambil berfikir. Siapa sebaiknya yang kita biarkan tidur di luar tenda malam ini??

Sebelum adzan maghrib berkumandang, ternyata masih ada dua kelompok yang baru tiba di lokasi. Dan mereka langsung mendirikan dua buah tenda. Keliatannya sih Pro, dengan barang bawaan yang seabreg-abreg, satu kotak mie instan (entah itu kotaknya aja atau pake isi), satu kotak air mineral cup, minyak tanah dan yang sangat mencolok tentunya golok silver se-gede gaban.

Ternyata pikiran kami salah. Mereka bukan camping, tapi piknik. Sebenernya kita bingung, mereka anak-anak kuliahan atau tukang kayu? Kerjaannya nebangin pohon aja buat kayu bakar.

buat teman-teman lain yang suka camping, tolong jaga yak alam kita. Kita sama-sama jaga. Selain jaga kebersihan. Karena pohon itu tumbuhnya bukan dalam satu malam. Mau bakar-bakar boleh, tapi cari ranting kering dari pohon-pohon yang sudah mati. –> Duta lingkungan, dadah dadah ala Miss Universe.

Itu sih yang buat kita dan teman-teman camping lain di situ gak respect sama mereka. Ternyata ada yang lebih amatir dari kita.:)

Terlepas dari itu, kalo anak-anak camping laen bawa golok dan pisau gede buat potongin ranting yang bakal dijadiin kayu bakar, kita bawanya cuma piso dapur, itu juga diambil dari kosannya Kindi.hahaha.

Akhirnya kami berinisiatif cari ranting kering ke dalem hutan. Dapet sih..tapi dikit. Alam juga sedang basah karena hujan tadi malam. Setelah maghrib, dengan ranting seadanya kita mulai coba bakar. Alhasil, tuh ranting gak kebakar-kebakar.

Entah karena kasian atau karena males banget ngeliat kita ribut gara-gara ranting yang gak kebakar-bakar, anak tenda sebelah dengan baik hati menawarkan diri membakar ranting kita dengan karet. Yak, ternyata kalo mau camping jangan lupa bawa karet, biar bisa buat bakar api unggun walau cuaca hujan. Tapi jangan coba-coba bawa karet gelang apalagi kalo sempet terpikir mau bawa ban mobil truk, sekalian aja sama truknya dibawa trus dibakar biar apinya gak abis-abis sampe seminggu.

Jadi, bawalah karet ban secukupnya. Yahh..cukup-cukup buat satu kampung kalo lagi mati listrik :D.

Akhirnya kita kenalan sama Bolot, . Dan Ricky. Yakk.. mereka anak-anak dari komunitas ekspedisi pendaki dan pencinta lingkungan (Kalo gak salah ingat sih gitu), suka petualang ke alam bebas. Bercerita tentang tempat-tempat tersembunyi di Aceh yang mereka kunjungi cuma untuk camping  bener-bener bikin aku iri. Tentang air terjun paling tinggi dan sebagainya. Mungkin suatu hari, aku bakal ikut sama mereka. Salam Anak Gunung. Piss..piss..

Suasana malam di alam terbuka pinggir pantai ini bener-bener menyenangkan. Di depan setiap tenda udah menyala api unggun. Kita bener-bener gak disibukkan dengan urusan dunia lainnya. Jangankan listrik, signal henpon aja gak ada.

Walaupun dalam pikiranku waktu itu, ini yang pole position F1 siapa ya?

Pikiran Kindi; yang menang Indonesian Idol siapa?

Dan Citra mikir gimana caranya Pizza mau delivery ke situ?

ImageSementara campinger lainnya mulai mencoba masak buat makan malam. Dengan wajah tanpa dosa dan penyesalan Aku, Kindi dan Citra mulai mengeluarkan nasi bungkus yang kita beli tadi sore.hahaha.:D. -Maap ya temen-temen yang ditenda sebelah dan sebelahnya-. Tadinya sih pengen bawa mentahan juga, trus pengen masak-masak disitu, sekalian pengen buat es skoteng, mie aceh, jus alpukat dll -Jiwa wirausahanya dapet banget-. Tapi krn kondisi cuaca juga hujan, jadi kita inisiatif untuk bermain aman aja. Beli nasi bungkus dan cemilan buat sarapan. Maklum, masih pendaki amatir. Jadi kita masih sambil belajar dari lapangan dulu. Piss yahh.. 😀

Tapi yang beneran buat shock itu, Headlamp Citra yang masih model ‘80an dan pake radiator. Sebenernya bukan radiator, itu tempat batere. Bukan itu aja, ternyata Citra masih akan memberi kami suprais selanjutnya, baterenya ternyata batere ABC yang segede gaban. Hahaha. Piss ya Cit. Tapi sayang, keperkasaan tampilannya tidak didukung oleh stamina dari bohlamnya. Dan akhirnya lampu jadul Citra itu nyerah dengan 2 bohlam putus. Sayang, lampu itu lupa diabadikan dalam perjalanan ini. Mungkin untuk lain kali boleh lah dipasang lampu hemat listrik aja Cit atau lampu neon sekalian :p.

Cuma satu yang buat camping jadi gak asik. Hujan.

Kita jadi gak bisa ngapa-ngapain kalo hujan. Belon lagi hujannya plus angin kenceng. Untung tendanya masih tahan badai. Yang pasti semua cari kehangatan di dalam tenda, gak ada suara ribut-ribut di luar, yang ada cuma suara hujan. Gak tau gimana keadaan tenda lain, yang jelas pas dikejutkan oleh suara alarm henpon, tanda sudah pukul 6 pagi, di luar masih hujan rintik-rintik.

Sementara dua badak itu masih modom di dalem tenda, Berbekal Rain Coat Consina milik Citra, aku keluar tenda, menikmati udara pagi di pinggir pantai. Ngeliatin anak-anak tenda sebelah mancing, dan ngobrol matjho dengan mereka. Ngeliatin alam yang basah itu sungguh menyenangkan. Merasakan dinginnya sapuan ombak laut, menikmati hujan yang jatuh di atas air laut itu selalu menenangkan.

Walaupun matahari enggan menampakkan wujudnya di langit, I’am sure yakin pasti hari telah semakin pagi. Tapi hujannya masih betah turun terus. Tadinya sih gak segitu niat mo mandi laut. Tapi karna kecebong dua ini maksa, akhirnya imanku runtuh.

liat video camping kami di bawah ini..

Mandi laut ketika hujan turun itu tak terperi nikmat dan menyenangkannya. Seperti menjalani dua kenikmatan sekaligus..apaa coba. Hahaha. Yang pasti, Pantai Lhok Mata Ie ini beneran kayak private beach. Dan sebaiknya memang seperti ini. Gak perlu banyak orang yang datang ke sini. Apalagi tangan-tangan yang suka merusak. Alam itu bisa jaga dirinya sendiri kok, gak masalah kan buat loo?

Finally, Sekitar pukul 12 siang dengan hujan yang masih rintik-rintik, kami turun gunung, ninggalin Lhok Mata’ie. Pasti kami akan kembali satu hari nanti, dengan perlengkapan camping yang lengkap. Pengennya sih nyoba tempat lain, another natural secreet place di Aceh itu masih banyak soalnya.

Selalu menyenangkan ketika aku mencoba keluar dari zona nyamanku, dan mencoba survive dalam perbedaan. Bebas..karena Bebas itu selalu nyata.

Advertisements

9 thoughts on “Camping Ala Amatir Campinger: Lhok Mata Ie, Aceh – Indonesia

  1. Menyenangkan sekali baca ceritamu ini, Dika. Aku ga berenti senyum-senyum ngebayangin situasi kalian saat itu. Jadi beneran pengen ikutan. Cara penceritaannya pun menurutku udah bagus. Coba deh bikin cerpen dengan gaya bercerita seperti ini. Kayaknya bakalan jadi keren juga. Lanjutkan! 🙂

    Dicko : Makasi sensei :). Ayok mari kapan-kapan kita camping Ala Pro :p. Cerpennya diusahain. Mohon bimbingannya sensei 🙂

  2. Pingback: Bermalam Minggu di Tengah Hujan dan Badai « Citra Rahman

  3. masukin eagle award bang :)))))))

    Dicko: Ahh..iya, tapi jangan yg ini, videonya masih ecek2. :D. Eniwei, makasih sudah berkunjung Rif 🙂

  4. Ecieeee…yg baru beres2in blog nya….
    Selamat yaaaa akir’a aktip lg…
    Kayak’a masi belom bersih nih blog’a saking kelamaan ditinggal..harus makin banyak tulisan baru biar makin bersih… *sambil tepuk2 sisa debu yg masi nempel* 😀

    Dicko: *Salaman sama Ulan* *Dadah Dadah..* *Pamer Piala*. Note: Untuk tulisan berikutnya, diharapkan bantuin ide-idenya, terima kasih :p

  5. Keren cerita qe, aku sambil senyum2 sendiri dikerumunan org sambil melototin hape, dan disangka udh gak waras. I like your story :))

    Dicko: wkwkwkw…tengkyu tengkyu. Ngapain qe dkerumunan orang?

  6. aaakkk..bikin mupeng ih! Ini bisa dibilang kemping cantik yaaa.. hihihi…

    Jadi pengen terbang ke Aceh 😀 *panggil awan kinton*

    Dicko: Ayooo…sini. :D. Itu sebenernya ada sunset baguuss. Tapi pas mendung 😀

    • Hai Andriani, terima kasih sudah mampir. Kalo untuk cowok mungkin gak masalah ya. Tapi kalo cewe setau saya sih gak boleh camping. Tapi mgkin bisa ditanya ke Posko Pecinta Alam yang di situ, siapa tau boleh dengan alasan tertentu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s